Sabtu, 23 Februari 2013

NUS

Derendan, NUS di Daerah Lokal Riau
Efa Riana*

NUS (neglected and underutilized species) sering disebut tanaman minoritas karena nilai ekonominya kecil dibandingkan dengan produk kormesial dan perdagangan tanaman pokok ppertanian.  Biodiversity International (sebelumnya IPGRI) mendifenisikan spesies yang terabaikan dan spesies yang kurang dimanfaatkan bukan hanya tanaman budidaya, tapi tumbuhan liar yang dikelola dan dibudidayakan sebagai bahan pertimbangan. Tanaman yang masuk kategori nus diantaranya buah dan kacang kacangan hingga daun tumbuhan, sereal, kacang kacangan di hutan, akar dan getah.  Biodeiversity mengklasifikasikan tumbuhan yang tidak termanfaatkan dimana mereka tumbuh secara luas tetapi tidak digunakan untuk kepentingan ekonomo, genetic dan budaya. Beberpa spesies mungkin didistribusikan secara global tetapi cenderung menempati relung khusus di pemanfaatan dalm fungsi ekologi, system produksi dan konsumsi secara lokal. Petani dan masyarakat kurang menggunakan spesies underutilized karena mereka tidak kompetitif dengan spesies lain di lingkungan pertanian yang sama. Tapi istimewanya NUS dapat berdapatasi dengan baik pada relung agro ekologi dan area marginal, dan dibudidaya dan dimanfaatkan dengan menggunakan pengetahuan masyarakat local.
Biodiversitas mengatakan bahwa spesies yang terabaikan tumbuh di pusat asal spesies atau pusat keragaman spesiesnya dan masih sangat penting dalam menopang ekonomi masyarakat local disekitarnya. Tetapi  walaupun masyarakat local terus mempertahankan spesies tersebut dengan cara mereka menggunakan dan keterpautan dengan social budaya mereka, masyarakat tetap tidak cukup medokumentasikannya dan hal ini masih diabaikan oleh lemabaga penelitian dan konservasi (Eyzaguirre et al 1999).  Oleh karena itu spesies ini disebut diabaikan karena tidak mendapat perhatian dari system pertanian nasional dan kebijakan konservasi keanekaragaman hayati, dan pengembangannya diabaikan oleh penelitian ilmiah, dan nyaris tidak terwakilkan dalam bank gen ex situ (Padulosi dan Hoeschle-Zeledon 2004).
Petani local merupakan pelaku yang menjaga eksistemsi plasma nutfah dari spesies underutilized karena mereka bergantung dengan spesies itu sebagai komponen penting dalam system pertanian mereka. Pengetahuan yang ada pada petani merupakan warisan turun temurun dari generasi sebelumnya yang dijadikan pengetahuan adat.  Pada dasarnya batasan tentang tanaman underutilized perlu lebih ditekankan lagi. Masih terjadi perdebatan tolak ukur dari tanaman yang tergolong NUS.  Istilah kurang dimanfaatkan (underutilized ) secara umum merujuk pada spesies potensial tetapi masih belum sepenuhnya direalisasikan.  Namun menurut Padulosi (2002) bahwa istilah ini tidak memberikan informasi tentang geografis, social atau impikasi ekonomi. Berkaitan dengan distribusi geograsi NUS sering kali hanya dimanfaatkan pada daerah tertentu, hubungan dengan kondisi social dan implikasi ekonomi, banyak spesies yang menjadi kebutuhan esensial masyarakat tetapi karena pemasaran tidak dikelola dengan baik maka tidak termanfaatkan dalam sisi ekonomi. 
Usaha dilakukan oleh lembaga GFU (Global Facilitation Unit for Underutilized Species) untuk memberikan criteria dalam mengakarakterisasi NUS yaitu :
a.       Membutuhkan batasan input eksternal untuk produksi
b.      Sesuai untuk produksi organic
c.       Sesuai dengan budidaya pada lahan marginal
d.      Sesuai pada stabilitas ekosistem yang rapuh
e.       Masuk dalam system pertenian skala kecil
f.       Memiliki kepentingan tradisional local dan/atau regional.
NUS merupaka asset biologis, yang tersedia secara bebas, dari pedesaan dan memberikan berbagai manfaat dan produk kepada masyarakat seperti makanan, tanaman obat, bahan kerajinan, dan penghasilan tambahan.  Sering juga tanaman ini dikaitkan dengan nilai budaya dan agama masyrakat local sekitar, makas secara tidak langsung masyarakat local melestariakn tanaman tersebut (IPGRI 2000).  Keberadaan NUS terancam dengan adanya eksplotasi ekosistem secara luas dan petani yang menempatkan NUS sebagai sumber pemenuhan kebutuhan pendapat pribadi juga member dapat tidak baik khususnya bagi pewarisab NUS.

NUS di Riau
            Provinsi Riau terdiri dari 13 kabupaten yang setiap kabupaten memiliki suku bangsa beberapa suku dengan kebiasaan masyarakat yang berbeda sehingga cara mereka dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada didaerah mereka pun berbeda. Penelusuran yang terekam penulis selama ini sebagai salah seorang putra daerah yang berasal dari Provinsi Riau, menemukan tanaman khas Riau yang akan menjadi bahasan yaitu tentang buah derendan (genus Lansium).
Derendan merupakan sebutan daerah bagi jenis buah yang termasuk genus Lansium.  Secara morfologi buah, sekilias derendan hampir mirip dengan duku (Lansium domesicum) (Gambar 1). 
Foto0631.jpghttp://us.123rf.com/400wm/400/400/borilove/borilove1205/borilove120500070/13813709-lansium-domesticum-in-white-background.jpg
(a)                                               (b)
Foto0648.jpghttp://2.bp.blogspot.com/_P7I8IYxBfKw/TKlG0gzTe_I/AAAAAAAAASk/VXY7zZCQXiw/s1600/langsat.jpg
                                    ( c )                                                                  (d)
 Foto0649.jpg    http://3.bp.blogspot.com/_P7I8IYxBfKw/TKlG5-lJbyI/AAAAAAAAASo/NAQxwxGh1Uo/s1600/Duku.jpg
                        (e)                                                                    (f)


Foto1215.jpg  http://4.bp.blogspot.com/-s37ITuDByL0/Tz3pJZ7XbzI/AAAAAAAAAOI/VzYJf2ycXgI/s1600/3.jpg
                        (g)                                                                                (h)
Gambar 1. Perbandingan dokumentasi buah derendan dengan buah duku (Lansium domseticum). a (derendan)  dan b (duku) model pertumbuhan dan perkambangan buah buni mirip berada pada satu tandan penuh. Daging buah c (derendan) dibungkus kulit ari yang tebal disbanding duku d (duku). Posisi pelekatan buah yang mirip antara duku (e, g) dan duku (f,h)

 Perbedaan yang sanga mencolok antara derendan dan duku adalah kulit buah duku lebih bersih dan lebih licin dibanding derendan sehingga lebih menarik untuk ekonomi, tetapi dari segi kualitas rasa derendan sama manisnya dengan duku.  Penyebaran buah derendan di provinsi Riau diduga hanya didua kecamatan di Kabupaten Bengkalis yaitu kecamatan Rupat dan Kecamatan bengkalis sebagai centre of origin dan centre of diversity tanaman derendan. Pulau bengkalis dan pulau rupat memikili jarak yang dekat. Musim derendan berbuah setahun sekali pada bulan oktober hingga November untuk masa pemanen. Pemasaran hanya dilakukan diwilayah sekitar karena terbatasnya akses dan pengelolaan pasar yang professional. Derendan dijual perkilonya Rp.8000.  Perkebunan derendan masih dilakukan diperkarangn rumah warga. Jika ini dibudidayakan secara luas seperti duku maka berdampak positif terhadap peningkatan perekonomian khususnya masyarakat lokal Karena derendan memiliki potensi yang hampir sama dengan duku, bedanya hanya belum terekspos dan penampilan morfologi yang belum begitu menarik untuk jadikan sebagai komoditas pertanian. Ini menjadi pekerjaan para pemulia tanaman dan lembaga penelitian untuk melirik buah derendan guna melakukan perbaikan perbaikan genetic sehingga diperoleh buah yang layak ditempat dikomoditas buah nasioanal.

*mahasiswa pascasarjana IPB, mayor Biologi Tumbuhan asal pulau Rupat, Kab Bengkalis, Riau


Genetika mendel di transgenik

Genetika mendel di transgenik

Seorang ahli genetika perlu untuk menguasai teori genetik klasik mendel dan teori genetika modern dengan tujuan produk genetik yang dihasilkan valid terlebih jika bekerja dengan perakitan tanaman transgenik.  Pada kasus ini tanaman transgenik yang ditulis adalah padi gogo kultivar kasalath.  Padi Kasalath berhasil ditransformasi dengan gen SOD.  Kasalath transgenik dinamakan T0 (transgenik 0).  Jika T0 jika ditanam menghasilkan biji T1. Biji T1 disemai, benih yang tumbuh dinamakan tanaman T1, ketika berbuah disebutnya biji T2 begitu seterusnya. Agar gen SOD dikasalath transgenik permanen, perlu dilakukan uji chi kuadrat untuk mendapatkan kasalath transgenik homozigot dominan. Tanaman T0 memiliki gen heterozigot karena biji berasal dari hasil persilangan.  


M
m
M
MM
Mm
m
Mm
mm

Misal: M adalah kasalath SOD dan m adalah 0. Hasil biji T1 diduga masih heterozigot.  Langkah selanjutnya melakukan seleksi ketahanan higromisin pada minimal 100 biji T1 untuk melihat populasinya. Jika ditemukan individu yang mati diduga tanaman yang mati itu memiliki genotipe homozigot resesif karena tidak toleran terhadap higromisin.  Individu T1 yang hidup ditanam dan dibiarkan menyerbuk sendiri.  Biji T2 (100 biji) dipanen dan kembali diseleksi dengan higromisin.  Jika percobaan perjalanan normal maka akan diperoleh individu T2 yang hidup semua atau perbandingan populasi mendekati perbandingan mendel yaitu 3:1.  Tanaman T2 bisa dikatakan tanaman kasalat transgenik SOD. 
 Dalam proses perakitan tanaman transgenik sebaiknya spesies target merupakan tanaman ekonomis. Tetapi terkadang yang menjadi kendala tanaman yang bernilai ekonomis sulit untuk dilakukan transformasi. Tanaman hasil transgenik yang stabil walaupun tak bernilai ekonomis bisa dijadikan aset sebagai tetua untuk mentransfer gen target secara alami melalui uji silang atau backcross.  Misalnya kasalath trangenik tak ekonomi untuk ukuran padi Indonesia, bisa dikawinkan dengan padi lokal unggul dan dilakukan backcross beberapa kali untuk mendapat gen target yang permanen pada padi lokal.


Kamis, 21 Februari 2013

Nikmat Sekelip Mata


Nikmat Sekelip Mata

"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka niscaya Allah kan membuka jalan keluar baginya. dan Dia memberinya rezeky dari arah yang tak disangka2. dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya allah akan mencukupkan keperluannya. sungguh Allah melaksanakan urusanNYA. sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu"(Attalaq 2 to 3)

Aku ngefans banget dengan ayat dari Tuhanku, gimana gak, DIA cuma mensyaratkan kita hambaNYA untuk takwa dan tawakkal aja, trus DIa yang nyelesain urusan2 kita dan mencukupkan semua keperluan kita (bukan berarti aku bilang aku ndiri udah takwa dan tawakkal ya, tapi aku dalam proses dan selamanya dalam proses kesana)..keajaiban ini terjadi lagi dalam episode hidup ku hari ini.  masuk semester 2 perkuliahan disuguhkan dengan jadwal yang sangat padat, tuntutan untuk publikasi jurnal sebagai syarat sidang master, sedikit membuat puyeng untuk mengatur jadwal dan strategi perkuliahan. emang dari awal semester aku udah dapat pembimbing penelitian. dan selama ini aku baru magang aja dilab karena belum pernah sama sekali kerja dengan molekuler. masuk semester 2 ini aku sibuk mengatur jadwal dan strategi supaya bisa kelar kuliah tepat waktu. pagi ini, tiba2 pembimbing ku minta untuk aku bertemu beliau. aku kalap karena satu semester lalu aku hanya "bermain2" saja dilab. pesan untuk mempelajari jurnal2 dan mulai menulis proposal penelitian waktu itu tak kuindahkan. aku menebak pemanggilan ini tentu berhubungan dengan proyek penelitian beliau yang telah ku sanggupi untuk dilakukan. akhirnya aku memutuskan sebelum jadwal bertemu dengan pak soni, aku merilis dulu jadwal penelitian usulanku supaya nyambung saat berdiskusi. aku masih punya waktu sampai besok untuk mempersiapkannya. aku mulai mengkalkulasi waktu penelitian plus menulis thesis yang ku targetkan sendiri kelar dalam tahun ini sehingga januari 2014 aku bisa publikasi untuk jurnal seperti yang dituntut oleh pihak DIKTI. sambil nulis sambil mikir, tapi apakah mungkin ini terealisasi. sedikit pesimis. gimana tidak, aku sangat ngebleng dengan konsep dan praktek genetika tapi nekat melakukan penelitian perakitan tanaman transgenik. tapi aku mau, aku mau bekerja keras dan belajar lebih giat lagi, bisik hati ku. Bismillah...ku raih buku dan pensil dari tas export dan mulai ku tulis perencanaan waktu penelitian. kalkulasi penelitian butuh waktu 5 bulan sampai dapat explant tanaman transgenik. 4 bulan kedepan menulis thesis. pas waktu setahun ini digunain untuk penelitian. aku kembali membaca dan memperhatikan secar detil tabel2 waktu itu. semoga pembimbing ku menerima usulan penelitianku yang sedikit gila, menurutku.
***
Berangkat kekampus dengan sedikit was2, karena hari ini janjian ketemu dengan pembimbing. "semoga usulan waktu penelitian diterima!" bisikku dalam hati. pukul 1 siang tiba wktu untuk ku menghadap pembimbing thesisku. seperti biasa, wajah ramah kebapakan selalu tersuguhkan saat bertemu beliau. aku duduk diruangan beliau yang dipenuhi berbagai poster risetnya dan tumpukan2 teks book yang tersusun tapi di 3 rak. 
"silahkan duduk.."
aku duduk dikursi yang berhadapan dengannya. hatiku kembali galau. ragu untuk menyodorkan kertas oretan schedulle penelitian yang telah aku buat. apa ini tak terlalu mendesak? terlalu terburu? gimana kalau ditolak? emang ini yang diinginkan pak soni ya? kok gak nanya2 dulu kenapa beliau mint menghadapnya hari ini?. sambil sibuk mikir, sambil mengeluarkan catatan penelitian dari tasku dan menyiapkan kata2 terbaik tiba2 beliau membuka pembicaraan,
"Kalau tahun ini, apa kamu bisa mendapatkan hasil tanaman transgeniknya fa?" pertanyaan itu membuatku terbengong2. Maysallah, tahun ini? itu berarti aku harus menyelesaikan penelitian ku dalam tahun ini. ya Rabb, aku baru memikirkan tapi Engkau sudah menyuguhkan jalannya dengan sangat jelas. Mendadak dalam benak yang sedang bertanya apa mungkin aku bisa melakukannya? aku sama sekali belum punya dasar yang mantap untuk kerja digenetika molekuler. apa lagi buat tanaman transgenik. masa' tiap waktu harus tanya2 kebeliau? pembimbingku kan super sibuk. bilang iya gak ya? kok jadi ragu gini. kan aku udha menyusun jadwalnya sebelum beliau bilang. tolong ya Allah.ibaku dalam hati. aku masih diam. bingung mw jawab apa. tapi sepertinya beliau tidak minta persetujuanku. ini lebih seperti perintah. dan nikmat hari ini bertubi lagi...Allah mengerti apa yang aku fikirkan. dan seketika solusi cantik tanpa ku minta dna terfikirkan, disuguhkan seketika
" Nanti kerja kamu akan dibantu dengan teknisi khusus tanaman transgenik di lab Kultur supaya lebih mudah. saya sudah koodinasikan tadi. ada 2 topik yang perlu kita selesaikan tahun ini. karena kalau tidak selesai tahun ini maka semester depannya tidak ada alokasi dana untuk penelitian transgenik padi ini. jdi saya harap kita bisa bekerjasama!" wew..aku hanya bisa bertasbih. kalau sudah pembimbing yang bilang begini, konsekuensinya beliau yang akan mendesak2 kerja kita dan kitapun akan segera menyelsaikannya tanpa menunda2 lagi. wlau konsekuensinya kita harus menyediakan tabung oksigen banyak2 untuk antisipasi sewaktu2 semaput ^^.. ya Rabb semoga bisa menyelsaikan penelitian ini dengan baik dan menyeimbangkan dengan jadwal kuliah semester dua yang semakin padat. trus ntar smster 3 mw ngapain? nanti kita fikirin rencananya ^^..Chayooo...Allah selalu tau dan lebih tau yang terbaik untuk kita hambanya :)..Allah telah mengadakan ketentuan untuk setiap sesuatu dan biarkan Allah yang mengurus urusannya. klu kita ikut mikirin urusan Allah misal. nanti gimana ya depannya? itu mah urusan Allah. kita cukup. lakukan yang terbaik, patuh, taat, takwa dan tawakalla...dan tunggu kejutannya..yuuk semakin perdalam tauhid dan ma'rifat kepada Allah Azza wa Jalla...luv Allah..Full...





Gadis Biasa

Dia bukanlah seorang gadis luar biasa, yang populer dan prestasi dibanyak bidang hingga dikagumi, yang berparas cantik bak bidadari hingga menarik simpati.  Dia hanyalah gadis biasa yang sederhana dan bersahaja. Sederhana memandang hidup sebagai manifestasi patuh dan taat kepada Tuhannya, Allah dan bersahaja menjalani hidup seperti apa yang diinginkan Tuhannya, Allah, bukan seperti apa ia ingin menjalani hidup. Dia hanyalah gadis biasa, tapi hatinya penuh cinta, cinta kepada sang Rabb penciptanya. Dia tak bermata jeli seperti bidadari tapi mata itu selalu menangis menganak sungai saat bertemu dengan tuhannya dalam permohonan ampun atas kehinaan diri.  Dia hanya gadis biasa yang punya satu impian untuk menjadi penghulu bidadari syurga dan menjadi pendamping dari seorang mujahid yang syahid karena membela agama Allah. Bukankah gadis biasa yang sholehah lebih utama dari bidadari syurga jiwa ia bertaqwa?