Kamis, 16 November 2017

#Day 15: Empati untuk Damai –Tantangan 10 hari komunikasi produktif



           
            Komunikasi yang melibatkan orang orang dewasa akan sangat banyak gesekan yang membuat tidak nyaman karena masing2 sudah memiliki sifat ‘keakuan’.  Oleh karena itu sangat diperlukan pengendalian diri yang luar biasa terutama komunikasi yang melibatkan lelaki dan perempuan (red: suami istri).  Kebanyakan singgungan dalam komunikasi yang aku jalani dengan suami diawali dari sikapku yang suka tersinggung, diam, ngambekan jika ada sesuatu hal yang tak cocok di hatiku hingga suami merasa tidak nyaman.  Kondisi ini membuat suamipun badmood.  Sikap fitrah wanita yang ingin di mengerti, minta diperhatikan, minta dipahami dengan kode terkadang tidak ditangkap oleh suami sehingga membuat suasana hati kacau, raut muka masam dan nada suara yang jutek.
            Hari ini aku mencoba memahami keadaan dan mengkondisikan diri dari hal yang tidak nyaman dihati karena suami. Aku memperbanyak dzikir minta dilembutkan hati agar lebih nerimo dengan keadaan yang sedang dijalani.  Biasanya dalam kondisi ini, aku sudah diam menahan kesal.  Tapi alhamdilullah aku bisa belajar empati, mengontrol hati dan nada suara agar tidak naik intonasi..

#hari15
#gamelevel1                                                                
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip











Rabu, 15 November 2017

MENGENALKAN EMOSI KE BALITA


Aqila Seorang balita tiga tahun yang pada saat itu lagi hobi-hobinya ngelampiasin emosi. Adalah suatu ketika, dia kesel sama temen mainnya, lalu diambilnya batu kerikil dan dia lempar batu tersebut ke temen-temennya. Laku si anak di lihat oleh ibunya, kemudia si Ibu membawa pulang anaknya sambil diiringi ratusan omelan.  Setelahnya aqila di hukum ibunya,gak boleh main sore selama sepekan. Tapi si anak 3 tahun ini masih tertangkap basah "main tangan"
lagi saat lagi kesal atau marah. "Duh ni anak kok jadi suka mukul sih? Belajar dari mana sih ini?"
pikir si ibu dalam hati sambil was was, duh bakalan suka mukul gak ya ni anak sampai besar nanti? Adakah ayah bunda yang belakangan ini memiliki pertanyaan yang sama?  seringkali anak memukul bukan karna dia suka mukul. Atau indicator dewasanya bakal jadi orang yang suka mukul. 

Anak memukul itu bukan sifat. Bukan karakter. Tapi karna ketidakmampuan anak mengelola emosi, terutama emosi marah.  Pada saat marah reaksi fisik yang muncul adalah Jantung berdebar, syaraf tegang, nafas lebih cepat, tangan mengepal.  Bedanya dengan balita, ketika orang dewasa marah, reaksi mereka tidak langsung memukul, tapi Marah itu dikelola dulu sama otak kita untuk dialihkan dalam bentuk lain selain memukul.  Misalnya seperti yang dicontohkan rasul.  Itu bedanya anak anak dan orang dewasa. Saat marah, anak baru mampu mengikuti reaksi fisik yang ia rasakan. Saat kesel, tangan tiba tiba mengepal, ya udah pukul. Saat marah, syaraf menegang, ya udah serang.  Jadi sebegai orang tua kita harus bagaimana?

Mengenalkan emosi dan cara mengelolanya adalah kuncinya.  Saat anak ketahuan mukul temen, sesegera mungkin pisahkan. Bawa anak untuk bicara. Ajak ia untuk merefleksi tentang APA yang ia rasakan. Kenalkan, dan bantu ia menamai emosi apa yang dia rasakan. Lalu beritahu anak bahwa ada beberapa cara menyelesaikan masalah yang kurang oke untuk digunakan. Memukul adalah salah satunya. Setelah itu, bisa sama sama diskusi. Di kemudian hari, kalau ada emosi marah lagi yang muncul, baiknya gimana yaa supaya gak perlu mukul
mukul lagi? Beri instruksi sejelas mungkin dengan bahasa yang mudah dipahami anak.  Anak yang mampu mengenali emosinya, akan lebih peka dengan perasaannya. Dan saat dibekali cara untuk mengelolanya, ia akan punya kuasa penuh atas dirinya dan tidak mudah terbawa emosi, apapun yang terjadi di sekitarnya.

(lanjut ke aqila) ibu aqila mencoba memberi instruksi se-konkrit mungkin supaya mudah dipahami, "Aqila, kapanpun Aqila ngerasa dada berat.. Panas.. Tangan mengepal.. Trus kesseeeel banget. Itu namanya Aqila lagi marah. Kalo lagi kayak gitu, lari menjauh dulu yaa dari temen temen. Kalo keselnya udah hilang, baru balik lagi deketin temen temen.." Beberapa hari kemudian, si 3,5 tahun kami pulang ke rumah dengan penuh laporan, "Ami ami.. Tadi kan Aqila gak diajak main.. Aqila disini (nunjuk dada) rasanya panas. Kesel. Trus Aqila lari aja dulu jauhin temen temen. Eh abis itu jadi gak kesel lagi, Miii.." Wajahnya berbinar bangga. Tak terkira.


Sumber : cerita bunda Aqila (dengan sedikit edit bahasa)
@ facebook.com/hsmuslimnusantara
@ FB: HSMuslimNusantara Pusat
@ instagram: @hsmuslimnusantara
@ twitter: @hs_muslim_n
@ web: hsmuslimnusantara.org

FASE EGO SENTRIS YANG TIDAK TUNTAS DI USIA TK & SD AKAN TERBAWA TERUS HINGGA REMAJA DAN DEWASA


Oleh : ayah edy

Apakah fase Ego Sentris itu ? mari kita simak kisah berikut ini. Suatu ketika ada seorang ibu yang memiliki anak berusia 16 tahun datang kepada saya, untuk mengeluhkan prilaku anaknnya katanya sangat bermasalah. Bayangkan katanya; anak saya ini sudah tidak bisa di atur lagi, bahkan jika dia bicara ke saya, sering memaki-maki dengan perkataan yang kotor, dan bahkan pernah beberapa kali dia memukul saya...., Sambil menagis si ibu ini terus melanjutkan ceritanya... Selain itu saya sama sekolah juga sering di panggil, karena anak ini sering memukul atau bahkan berkelahi disekolah.
Aduh saya sepertinya sudah tobat dengan perilaku anak saya ini.....,saya tidak tahu lagi harus bagaimana....? rasanya saya sudah putus asa....., setiap kali saya mengadukan hal ini pada suami, malah yang saya dapat adalah kemarahan tambahan dari suami saya...

Sungguh pada akhirnya saya juga jadi bingung harus mulai dari mana untuk bisa membantu ibu ini......, yang pasti ini semua merupakan sebuah proses panjang dari suatu kesalah pengasuhan dan pendidikan dari kedua orang tuanya. Para orang tua dan guru yang berbahagia namun kali ini saya tidak ingin membahas tentang bagaimana cara memperbaiki perilaku anak ini, melainkan, saya lebih ingin untuk mengajak para orang tua untuk tahu bagaimana mencegah agar hal yang sama tidak terjadi pada anak kita dirumah.
Para orang tua yang berbahagia, Tahukah kita bahwa kita hanya punya kesempatan mendidik anak kita untuk menjadi anak baik sangat terbatas sekali. Yakni sejak usia mereka balita hingga kira-kira di usia sekolah SMP akhir. Setelah itu kebanyakan anak akan sangat sulit sekali di ubah menjadi baik. Kecuali dengan cara-cara tertentu yang agak sedikit ekstrim. Namun demikian sesungguhnya tiap orang tua dapat mencegahnya sebelum ini terjadi; yakni dengan menggunakan kesempatan emas mendidik anak teserbut.
Menurut penelitian Ibu Dawna Markova, diketahui bahwa prilaku anak itu mulai dibentuk sejak usia Balita; yakni mulai fase Ego Sentris dimana anak merasa paling benar, paling penting sendiri, tidak bisa memahami hak dan keberadaan orang lain. Diharapkan pada fase ini peran orang tua adalah untuk mengajari anaknya untuk bisa berbagi dan memahami hak orang lain.

Kemudian berlanjut pada fase berikutnya yang di sebut sebagai gank age awal yakni usia SD yang di tandai dengan keinginan anak untuk di terima oleh orang lain atau kelompoknya; dengan cara meniru-niru prilaku teman-teman di kelompoknya. Pada fase ini peran orang tua di harapkan dapat mengajak anak berdiskusi mengenai nilai-nilai baik dan buruk dari sebuah prilaku yang ditiru oleh anaknya sampai ia paham betul. Tentunya tanpa harus memarahi anak, karena pada fase ini anak sering kali tidak tahu kalau yang ditirunya itu buruk, karena mereka memang belum memiliki acuan tentang baik dan buruk.
Setelah itu ia fasenya akan beranjak memasuki usia Gank Age Tengah pada usia SMP. Pada fase ini biasanya seorang anak tidak hanya masih meniru budaya kelompoknya tapi bahkan mulai tumbuh keinginan untuk tampil beda agar mendapat perhatian dari anggota kelompoknya atau
orang-orang di sekitarnya; oleh karena itu anak-anak SMP kita yang tidak terkelola mulai menujukkan prilaku-prilaku seperti mengubah model rambut agar tampak agak nyentrik, kemudian menggunakan gelang, anting atau mulai mencoba merokok, tawuran dsbnya sampai yang terparah adalah perbuatan criminal dan narkoba.
Ini semua pada awalnya hanya dengan tujuan untuk menonjolkan diri di depan teman temannya untuk mencari-cari perhatian namun pada akhirnya justru malah ke bablasan.  Pada fase ini orang tua dan guru diharapkan dapat membantu anak untuk menemukan keunggulan alaminya, agar ia bisa mendapat perhatian dari hal tersebut; seperti misalanya anak yang kuat di sport di dorong untuk masuk kursus/club sport, bagi anak yang suka tampil bicara berikan kesemptan untuk mengikuti lomba-lomba puisi, pidato,debat, untuk anak yang suka kekerasan dimasukkan ke klub bela diri dsb. Jadi mereka tahu apa yang menjadi keunggulan alami yang bisa dipamerkan pada kelompoknya untuk mendapatkan perhatian. Tidak harus mencari-cari yang pada akhirnya sering menjerumuskan mereka ke prilaku-prilaku terlarang. Dan apa bila masa SMP ini tidak berhasil kita kelola dengan baik prilaku anak kita maka setelah itu akan sulit untuk mengubahnya. Kenapa....? karena setelah itu dia akan memasuki fase identitas; yakni sebuah fase penetapan nilai dan konsep diri seorang anak. Jika dia menganggap hal negatif seperti kebut-kebutan adalah hal yang oke bagi dirinya; maka dia akan mengakuinya itu sebagai hal baik, dan akan sulit bagi kita untuk mengubahnya..

Jadi sekali lagi mari kita kawal masa-masa perkembangan anak kita mulai dari BALITA hingga menjelang SMA. Jika anda berhasil melakukannya maka selamatlah anak kita; dan anda mulai bisa melepas dia untuk berpisah melanjutkan studinya di perguruan tinggi dengan relatif aman. Namun jika tidak dia akan cenderung terus membuat masalah dimanapun dia berada. Itulah mengapa kita sering menemukan orang dewasa yang orangnya selalu saja membuat ulah dan membuat orang lain jengkel, atau yang sering disebut sebagai trouble maker. merasa diri paling benar, dan suka memaksakan kehendak dengan cara-cara kekerasan. Apakah diantara kita ada yang pernah menemui orang-orang seperti ini di sekitar kita ? Mudah-mudahan tidak ya ayah bunda?


#Day 14: Toilet Pagi –Tantangan 10 hari komunikasi produktif


            Seperti biasa, hari ini kamu bangun saat jam shalat subuh.  Bedanya pagi ini kamu bangun tanpa drama tangis.  Setelah mi shalat subuh, mengajakmu  untuk beranjak dari tempat tidur.  Dengan malas kamu ikuti perintah umi.  Saat subuh adalah waktu yang sangat efektif menambah hafalan qur’an.  Mi menawari mu membaca qur’an bersama, dan kamu mengikuti gerak mulut mi dengan cadel sambil bolak balik alqur’an.
            Jam pagipun adalah jam rawan untuk BAB, termasuk kamu.  Diapers mu telah mi lepas karena sudah penuh.  Tak lama mengenakan celana pendek mi liat dirimu mengambil posisi untuk siap2 BAB. 
“Azam mau pup? Kamar mandi yu…”, awalnya kamu menolak. Aku terus mencoba membujuk hingga kamu mau ikut ke kamar mandi.  Sesampai di kamar mandi ini membimbing mu mengambil posisi duduk di bibir toilet.  Kamu mengikuti mi.  mi menunggu dan akhirnya kamu berhasil pup di toilet hari ini.  Mi bahagia.  Semoga ini jadi awal yang baik untuk target Toilet Training kedepan.
           

#hari14
#gamelevel1                                                                
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip












Selasa, 14 November 2017

Makna Mengejar Akhirat

sumber: Dokumentasi Pribadi

                Bahwa segala aktivitas yang kita lakukan adalah karena ALLah, untuk mengharapkan akhirat dan ridho Allah.  Ketika kita mendapatkan akhirat, maka kita pasti akan mendapatkan dunia juga.  Bagaimana bisa? Begini, segala aktivitas kita adalah ibadah jika kita niat melakukannya karena Allah.  Seperti shalat, puasa, zakat, haji yang sebelum kita melakukannya ada lafaz niat yang harus kita ucapkan agar ibadah tersebut sah dan diterima oleh Allah.  Nah ibadah shalat, puasa, zakat, haji itu kita laksanakan karena perintah Allah, agar diakhirat nanti kita bisa bahagia masuk syurga.   
                Ibadah bagi muslim itu tidak hanya sebatas dalam rangkaian rukun islam saja, tetapi segala aktivitas kebaikan yang kita lakukan dan diniatkan karena Allah adalah ibadah.  Contohnya seorang mahasiswa yang kuliah menuntut ilmu dengan niat bukan karena ALLah berbeda dengan mahasiswa yang kuliah mengawali niat karena ALLah. Mahasiswa pertama segala aktivitas kuliahnya hanya sampai diurusan dunia saja. Misal niatnya untuk mendapatkan nilai cumlaude dan setelah lulus bisa mendapatkan pekerjaan yang bergengsi.  Maka di saat menjalani aktivitas bisa jadi ia akan menempuh segala cara untuk mendapatkan apa yang ia niatkan termasuk dengan jalan yang salah.  Mengapa? Karena dia tidak punya rasa di awasi oleh Allah yang akan menuntut segala keburukan yang ia kerjakan.  Misalnya Mencontek saat ujian, plagiat tugas laporan demi nilai tinggi, melalaikan bahkan meninggalkan shalat saat praktikum mata kuliah berlangsung karena takut dengan dosen atau asisten. Bisa jadi dia hanya mendapatkan lelah dan rasa tertekan. Sudah mentok didunia saja.
                Mahasiswa yang menjalani kuliah dengan niat karena Allah maka ia akan mendapatkan kebaikan akhirat dan dunia juga. Bagaimana bisa? Begini, mahasiswa yang telah meniatkan kuliah karena Allah, dia paham dan mengerti bahwa menuntut ilmu itu adalah kewajiban, bahwa Allah meninggikan beberapa derajat orang yang berilmu, firman Allah:

“Wahai Orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian “ Luaskanlah tempat duduk “ di dalam Majlis-majlis maka luaskanlah(untuk orang lain), Maka Allah SWT akan meluaskan Untuk kalian, dan apabila dikatakan “berdirilah kalian” maka berdirilah, Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat, Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan”, (QS. Mujadillah:11)

                Usaha yang dilakukan untuk mendapatkan akhirat dan dunia bersamaan misalnya dengan belajar sungguh sungguh agar bisa menjawab soal ujian, membaca banyak referensi agar laporan yang ditulis berkualitas.  Karena ia tau bahwa Allah itu suka yang kejujuran, dan jujur akan beri ganjaran pahala.  Berani meminta izin ke dosen atau asisten saat waktu shalat tiba, karena ia paham bahwa Allah pasti akan menolong hamba yang menjaga kewajiban2nya untuk Nya, maka dilembutkanlah hati dosen atau asisten untuk memberi izin kemahasiswa tersebut.  Setelah shalat, hati dan fikiran segar kembali untuk mengikuti kuliah praktikum dengan baik sehingga pemahaman akan ilmu bertambah dan mudah dalam menjawab soal ujian di akhir nanti. Nah ia dapat akhirat dan juga dunia.

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagia pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)
                Nah, Allah sendiri yang jamin kalau segala aktivitas kita untuk cari akhirat, gak perlu repot2 ngejar dunia, karena dunia akan ikut dengan sendirinya.  Walaupun begitu bukan berarti kita meninggalkan urusan dunia sama sekali.  Kita mencari dunia,untuk mengejar akhirat.  Saat kita kuliah ilmu pengetahuan yang kita dapatkan akan membuat semakin dekat dengan Allah, membuat kita semakin bertasbih memuji ciptaan Allah yang Maha Sempurna dan tidak membuat kita sombong.  Contoh lainnya kita ingin jadi orang kaya berharta.  Nah harta kita itu kita niatkan untuk akhirat misal untuk sedekah, jihad, santunan bagi yang membutuhkan. 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak akan menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash: 77)

Rasulullah juga menasehati kita lewat sabdanya,
 “Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. Tapi barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)

                Memohonlah selalu kepada Allah agar diberi kekuatan untuk selalu memperbaharui niat melakukan segala sesuatu karena Allah seperti yang DIA perintahkan,
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 162-163)

Letakkan dunia di genggaman sedangkan akhirat dihati agar tidak menjadi orang yang merugi. Karena dunia dan akhirat tidak bisa berkumpul dalam satu hati kecuali ia berjalan beriringan dengan persentase perbandingan seimbang 70% akhirat dan 30% dunia.


“Adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka, sesungguhnya neraka lah tempat tinggal(nya).” (QS. An’Naziat: 37-39)

#Day 13: Larangan yang efektif –Tantangan 10 hari komunikasi produktif


          
            Hari ini masih ada di episode larangan.  Alhamdulillah aku menemukan cara efektif bagaimana larangan di dengar oleh anak, yaitu dengan memberikan alternatif pengalihan perhatian dan bujukan yang logis. Hari ini kami diajak abi jalan sore.  Azam ingin duduk didekat abi yang sedang menyetir.  Biasanya abi akan mengizinkan saat berada dijalan sepia tau dalam keadaan macet.  Karena beberapa hari tidak diajak jalan, sekalinya diajak jalan azam memaksa untuk duduk didekat abi sedang jalan dlam keadaan ramai lancar yang butuh fokus. Azam keukeuh tidak mau diambil umi.
“ Azam ayo nak ke umi sebentar, nanti azam duduk lagi dekat abi. Sekarang sedang fokus nyetir..”, aku mencoba menerangkan. Azam menangis teriakan saat aku mencoba mengambil dia dari pangkuan abinya.
“Ayo sayang, nanti duduk lagi deket abi”
“ Nakk..aaa…aaaa….NAk”, azam menguatkan pegangan tanganya di setir.
“ Eh sayang coba liat ini dulu, ini kaca mobilnya basah, ayok kita lap sama kanebonya. Mana ya kanebonya?? Coba kita buka di laci sini..ayok sini umi bantu…”, aku mencoba kembali mengambil azam, dia melonggarkan pegangannya dari setir, sambil sedikit merengek dia menuruti kataku.
“ Ni kita lap dulu ya kacanya. Nanti kalau jalan sudah lengang azam boleh duduk dekat abi”, azam mengikuti kataku sambil memperhatikan jalan. Benar saja saat jalan lengang azam langsung menoleh ke abinya sambil mencoba menjangkau setir, abi langsung menyambut azam.

Metode seperti ini akan di uji kembali ke kondisi selanjutnya, insyallah. Dan pastinya kondisi ini menuntut aku memanjangkan sumbu sabar. J
           

#hari13
#gamelevel1                                                                
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip












Senin, 13 November 2017

#Day 12: Larangan –Tantangan 10 hari komunikasi produktif




            Hingga hari ke sebelas aku selalu mencoba komunikasi produktif dengan azam melalui kalimat kalimat perintah yang sudah bisa dia kerjakan.  Hari ini aku memberi perhatian atas kalimat larangan kepada azam agar dia tidak melakukan sesuatu yang tidak baik.
“Jangan tumpahin nasinya..!”
“Jangan tumpahin airnya…!”
“Jangan diganggu box itu, kerjaan umi belum selesai..!”
“Jangan diambil berasnya, nanti tumpah semua..1”
“Jangan…”
“Jangan…”
“Jangan…

Satupun dari kalimat larangan ku tidak ada yang ditepatinya. Semuanya dilanggar. Nasi diserakin, air tumpahin, box kerja di acak acak, beras dibuang buang..de el el..astaghfirullah, ternyata kalimat larangan yang tidak di gubris jauh lebih cepat menyulut sumbu pendek. Ini menjadi PR ku untuk belajar komunikasi produktif dalam hal melarang anak. Semoga tuntas bersamaan dengan berakhirnya game ini.
           

#hari12
#gamelevel1                                                                
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Minggu, 12 November 2017

#Day 11: Evaluasi –Tantangan 10 hari komunikasi produktif



            Ibu adalah guru pertama bagi anak anaknya.  Pelajaran kehidupan yang disampaikan bisa diterima baik oleh anak dengan komunikasi produktif.  Program tantangan 10 hari komunikasi produkti dengan anak membawa perubahan positif ke diri saya dan juga anak.  Sebelum menjalankan tantangan ini saya termasuk seorang ibu dengan sumbu pendek. Mudah sekali tersulut emosi negative karena tingkah laku anak yang tidak sesuai hati misal si anak menangis tanpa bisa dipujuk, rewel disaat saat sedang sibuk memasak atau aktivitas lainnya, susah makan, susah mengajari untuk bisa buang air kecil di kamar mandi, dan masih banyak lagi.  Dalam menjalani game 10 hari komunikasi produktif ini saya masih menemukan hal2 diatas, tetapi saya memulai dengan niat mencoba untuk membangun komunikasi produktif dengan anak. Setelah saya evaluasi dari hari pertama, saya menemukan frekuensi sumbu pendek saya sedikit memanjang, lebih bisa mengendalikan diri dalam berkomunikasi walau sesekali masih suka emosi, hiks.
            Untuk perkembangan komunikasi azam mengalami kemajuan yang cukup banyak.  Mulai mengerti dengan perintah yang diberikan dan melaksanakannya.  Mulai bisa merangkai kata menjadi kalimat. Ini semua tidak lepas dari peran komunikasi produktif yang coba dijalankan dengan anak, mengajak anak berbicara dengan intonasi dan energi positif. Alhamdulillah….


#hari11
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip