Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 September 2014

AKU TAK MENUNGGU MU




Aku adalah putri malu
Memilih mengatup daun saat tersentuh
Berharap bunga merah jambu segera dipetik

Bahasa cinta menyapa rasa
Tak mampu diterjemahkan logika
Mengapa telunjuk mengarah engkau untuk menyimpan asa

Aku menginginkanmu
Tapi aku tak menunggu mu
Aku adalah putri malu dengan bunga merah jambu
Ku terbar semerbak wangi madu
Dengan asa datang kumbang mempersunting
Tapi tak satu ada disini

Aku menginginkanmu
Tapi aku tak menunggu mu
Tawaran yang datang silih berganti
Tapi tak satupun jadi sampai detik ini
Ku hanya ingin segera menggenapkan dien ini

Aku menginginkan mu
Tapi aku tak menunggu mu
Asa ku jika nanti kau siap menyunting bunga
Arahkanlah telunjukmu ke putri malu
Maka dia akan menyambutmu dengan syukur
Karena sampai saat itupun bunga merah jambunya masih mekar menantimu

18/08/2014

Senin, 03 Februari 2014

Catatan langit

Aku menatap tanggal kalender yang tergantung dihadapan kursi belajarku. Sudah berganti tahun yang bersambut dari akhir ke awal, tapi waktu masih betah menyembunyikan jawab akan catatan langit yang masih menghadirkan Tanya “ kapan? Dan siapa?”. Pertanyaan pasrah dari kelancangan hatiku memberikan sebuah ruang untuk seorang gadis yang aku tidak tau mengapa dia yang terpilih hati dan apakah ada namanya dicatatan langit. Aku menghela nafas gamang, tidak mengerti mengapa belum bisa menjawab Tanya ku sendiri “mengapa dia yang terpilih hati?” sedang aku sadar bukan seperti dia yang ku ingin. Bahkan sampai namanya terucap dalam bait doaku dalam sujud sujud panjang di sepertiga malam, akupun masih belum mengerti. Aku tidak berani maju untuk mengkhitbahnya, karena aku belum menemukan jawaban itu. Mengapa?.

***
“oke, thanks untuk semua koreksian yang kalian sampaikan” aku memberi aploues ke personal tim ku.  Aku dipercaya oleh atasan untuk memimpin proyek penggarapan nursery akasia untuk ditanam di perkebunan RAPP.  Tim kami terdiri dari lima orang, tiga lelaki dan 2 gadis.  Ada yang selalu menarik perhatianku untuk focus kesalahseorang hawa di tim ku. Lalita.  Gadis berkerudung yang terlalu pendiam dalam pertemuan rapat rapat kami.  Memang posisinya sebagai bendahara pengelola keuangan, tapi aku juga ingin dia menyumbangkan pemikirannya yang tak pernah benar2 ku ketahui secara pasti jika dia tak pernah bersuara.
“lalita apa komentar mu?” dia hanya menjawab sekenanya. Aku tidak berani menginterfensi lebih. Entahlah. Biasanya kolerisku selalu bisa membuat orang2 disekitar ku melakukan apa yang aku mau. Tapi lalita memaksa diriku untuk menghadirkan sikap lembut, mendengar dan memahami. She is silencer. No comment. Just nodding of head.  aku tak pernah berpikir jauh tentang rasa saat itu. Tidak tertarik. Apa yang dimiliki gadis seperti lalita?.  Hingga disatu momen aku menemukan sosok lalita yang berbeda. Gelar baru dari ku untuknya, diam menghanyukan.  

***
Tambahan teory tentang nursery akasia menggiringku untuk menjelajahi dunia googling karena file kuliah yang tersimpan di memori otakku waktu kuliah di fakultas kehutanan gagal ditemui. Ketika itu kutemui sebuah CV bernama lengkap Dr. Lalita purwaningsing bertuliskan inggris. mungkinkah ini milik lalita yang ku kenal?. seksama ku membaca dan yakin hati baru muncul saat lihat foto 3x4 di CV itu.   benar rupanya.  Catatan CV yang amazing, ternyata lalita adalah seorang scientist yang kerap mengisi seminar2 nasional dan internasional, penulis opini yang sering terbit di koran2 bergengsi, dan penulis.  Kombinasi otak kiri dan otak kanan yang seimbang.  Aku terpana.  Seketika ku rasa simpati menjalar ke otakku terhadap seorang lalita si pendiam yang menghanyutkan. Harusnya dia bisa menyumbangkan ide terbaik untuk keberhasilan proyek itu tapi dia selalu mengizinkan aku untuk memimpin kami semua tanpa ada koreksi menggurui dari hal2 yang sebenarnya dia lebih tau dariku. Seketika ciut nyali ku yang sempat menjengkal lalita. Tenarnya tidak mengubah sikapnya yang selalu tenang dan tak terkesan menyombongkan diri.  tapi lalita yang gak tenar atau gue yang kuper? ah apapun yang kurasa perlahan pesona lalita menyelusup hatiku.
***
“ngopi dik?” tegur fatir, rekan kerja di tim yang aku pimpin. Sahabat sejawat yang langgeng sejak kuliah hingga meniti karir.  
“eh, gak gue masih mau menyelesaikan kerjaan dulu”. Jawabku menoleh sekilas ke fatir yang sedang menenteng secangkir kopi panas. Sebenarny ingin sekali aku beranjak ke pantry sebentar untuk menyedu kopi panas, pasti nikmat sekali di tengah udara dingin kota ini. Tapi deadline laporan proyek menahan langkahku.
“ya udah, gue buatin ya” tawar fatir baik hati.
“ boleh, kopi susu ya”
Aku masih sibuk membolak balik laporan analisis yang dikerjakan tim ku, perlu energy lebih untuk menyatukan semua pisahan solusi yang tertuang di kertas A4.  Aku harus memulai dari mana?.  Tanganku meraih lembar kerja lalita.  Mata ku dengan seksama merekam rangkai kata menjadi informasi utuh yang diterima otak ku. Informasi yang mudah dicerna.  Haa, good..batinku bergumam.  Seketika ku tahu harus memulai dari mana.  Jariku sibuk mengetik di tuts Hp yang sudah sejak subuh menyala.  Konsentrasiku terpecah saat dengan tiba2 syaraf otakku malah mengirimkan pesan tentang sosok lalita, yang membuat adrenalinku sedikit bereaksi. Apa karena setelah aku tau apa yang dimiliki gadis itu sekarang menguatkan hati ku memilihnya? But she’s not my type. But how can?. Aku teringat pertama kali pak hermawan, atasanku memperkenalkan aku dengan lalita dan tim laiinya di ruang rapat. Lalita satu2nya orang luar perusahaan kami tetapi masih dari satu induk perusahaan yang sama.  Kesan pertama biasa saja. Tak terlihat malah.  Ah Rabb apa yang kau ingikan? Sunggu tak pernah ku minta untuk ada namanya diruang hatiku. Tapi dengan tiba2 Kau buat pesonanya menyapa, sedang aku tidak pernah tau apa isi catatan langit itu. Sungguh ini mengganggu Rabb. Dialog hati dengan sang Rabb ku terputus saat fatir menepuk pundak ku. plaaak
“hey, kok malah ngelamun? Katanya mau menyelesaikan deadline laporan. Nih pesananmu” fatir menyodorkan segelas kopi susu dengan asap yang masih mengepul, sigap ku sambut dan beberapa saat kemudian bibir gelas telah mendarat di bibirku, dengan nikmat aku menyedunya.
“ngelamunin apa bro, serius amat?” Tanya fatir penasaran.
“ lalita…gadis itu mengganggu fikiran ku sejak beberapa waktu belakangan ini” jawab ku mantab yang membuat fatir hamper tersedak kopinya. Spontan menatap ku lama dan bengong.
“kenapa ngeliat gue kayak gitu?” Tanya ku tak mengerti. Sejurus kemudia ku dengar tawa fatir pecah. Aku sedikit tersinggung. Aku tidak bermaksud melawak dan entah apa yang buat dia tertawa.
“ hahaha,,,dika, sumpah gue gak nyangka..lo naksir lalita?? Beneran bro? kok bisa?” tawanya menjadi Tanya serius saat fatir menangkap eksperi datarku. Kok bisa? Mana gue tau? Pertanyaan itu masih belum sempurna terjawab. Yang ku tau lalita mampu mengungkung sikap kerasku menjadi lebih lembut, mengubah egoisku untuk lebih mengalah dan mendengarkan orang lain, mengganti cuek ku dengan sikap perhatian.
“ gue hanya gak habis piker aja, soalnya gue tau lalita bukan tipe lu.  bagaimana bisa gadis berkurudung dengan penampilan sederhana itu bisa menarik perhatian lu. hati lu yang selama ini lu tutup rapat2 dari gadis mana pun. Hmm tapi apapun bro, klu elu emang serius sama dia, lamar segera. Gue bisa bantu lu.” ini yang ku suka dari fatir, cowok blasteran sunda sumater yang selalu penuh solusi dan konkrit. Tapi masalahnya aku belum bisa menjawab mengapa aku melamar lalita dan masih bimbang dengan catatan langit. Ah, mengapa aku begitu takut di tolak lalita. Kenapa lalita harus menolakku sedang banyak gadis diluar sana yang ingin menjadi pendampingku.  Antara pertanyaan sebuah kenyataan dan perasaan sombong memang beda tipis.
“ oke, besok gue temui lalita. Gue akan bilang dika permana ketua tim kita yang juga wakil direktur perusahaan ini ingin melamarnya.” Tegas fatir yang menyela lamunku. Aku gelagapan.
“eh jangan dulu, terlalu cepat fatir” protes ku.
Fatir berontak tak setuju “ kumaha atuh kang cepet ha. Udah saatnya elu menikah. Syarat agama untuk menikah mah ke elu jatuhnya udah wajib. Yaudah istikharah dulu deh. Tak tunggu jawaban pasti tu. Eh, gue balik ke ruangan yak, masih banyak kerjaan. Jangan galau terus bro. semga diberi petunjuk terbaik” tanpa menunggu respon ku fatir langsung ngeloyor pergi.  Aku mendengar helaan nafasku sendiri begitu berat. Jika memang lalita, mudahkanlah jalannya ya Rabb…
***
Titik air itu masih betah saja jatuh dari langit, dan mendungpun masih setia menemaninya, walau sebentar lagi pasti akan ada angin yang datang menggiring mereka ketempat lain, memberikan kesempatan matahari menemani bumi.  Jam dinding masih berdetak dengan ritme yang sama. Tanggal kalender pun berlalu satu persatu menggantikan waktu dan kisah setiap detiknya.  Tapi sayang bukan kisah penantianku.  Semuanya masih sama, tanpa jawab sejak aku menyampaikan niat baikku untuk melamar lalita beberapa bulan lalu melalui perantara sahabat baikku, fatir yang sudah menikah 2 tahun lebih dulu dibanding aku.  Fatir dan istrinya menemui lalita sesaat setelah aku menyampaikan kemantapan hati.  hari ini aku menanti ujung lidah lalita berbicara melalui fatir.  Burung pelatuk begitu ramai bertengger di dada ku, menciptakan debar yang cukup kencang dan sesaat ku rasa langsung lenyap ketika mendengar ucapan fatir.
“ jawabnya belum siap dik.  Dia tidak menyentuh sama sekali surat mu.  Dan dia juga tidak bertanya siapa?.  Aku tidak sempat menjelaskan kalau itu adalah kamu, Karena lalita bilang kalau dia saat ini belum siap untuk menikah.  tapi aku yakin dia tahu pasti namamu yang terpesan disana dik.  tapi bukan hanya kamu ternyata yang mencoba meminangnya.  Sudah beberapa lelaki yang datang,  tapi dia tak menyatakan apapun. Hanya mengatakan saya belum siap dan saya masih banyak kekurangan. Saya tidak ingin menyakiti siapapun, dan tidak ingin memberikan harapan apapun dalam bentuk apapun. Jadi maaf mas fatir dan mba rifa, saya hanya bisa mengatakan sebatas pernyataan itu.”  Pernyataan fatir membuat aku diam membeku. Lama. Setelah kemudia ku mendengar suara ku sendiri, parau, bertanya ke fatir
“jadi kapan lalita siap? Apakah dia sudah punya calon suami?” jawabku hanya di tanggapi dengan gelengan kepala.
“ aku melihat lalita itu gadis istimewa yang tak pernah tersentuh benar2 tersentuh kaum adam. Dia begitu menjaga. Masalah calon suami, sepertinya belum ada. Tapi elu pasti taulah si silencer  itu begitu misterius.”

Ah lalita, apakah namamu di catatan langit itu yang menyatakan kau adalah tertakdir sebagai pendampingku? Ingin sekali ku kirim tanya bersama percikan kilat sore ni ke malaikat langit agar segera mengirim kabar bersama guntur yang secepat mampir di ruang bumi, bahwa memang nama mu lah yang ada tertakdir untukku, sehingga penantianku tenang walau tak berjawab saat ini dari lisanmu. Tapi ternyata titipan itu tidak sampai kelangit. Entah tercecer dimana. Guntur hanya mengirimkan hujan bersama dingin yang menambah titik beku penantianku dengan sisa tanya yang tak terjawab. Hanya ada pasrah dan penyerahan hati seutuhnya kepada pemilik catatan langit…

*** Bogor 2014, di Bulan Merah Jambu 

Jumat, 11 Oktober 2013

Ta’aruf cinta MU


Nayla celingukan memastikan jalan yang ia temui menuju mesjid baiturahman benar. Ingatannya kembali setahun yang lalu saat berkunjung ketempat ini. Semuanya masih sama. Pohon beringin besar yang berdiri kokoh ditepi jalan masih menjadi tempat favorit pedagang kaki lima bermukim dibawahnya menjajakan dagangan mereka. Walaupun ada yang tidak beruntung mendapatkan tempat strategis dibawah naungan pohon beringin itu. Nayla menyusuri jalan 200 meter menuju mesjid yang kiri dan kanannya diisi pedagang kaki lima. Aroma udara pun masih sama, sejuk segar memenuhi paru yang selama ini terkontaminasi polusi kota metropolitan tempat dia harus menyambung hidup sebagai seorang jurnalis disalah satu media yang cukup populer.  Bergegas nayla mengayunkan menuju mihrab hibernasi diri yang pernah ia lakoni dulu. Ia pernah begitu sangat merindukan mesjid itu  bahkan sebelum dia menginjakkan kaki disana. Kerinduan yang membuncah yang membuatnya betah berlama2 berkhalwat dengan Sang Kekasih pemberi nyawa. Mendekatkan diri sedekat dekatnya dengan sang Rabb.

Detil Nayla mengamati tampak depan mesjid. Tidak ada yang berubah. Masih ada 2 pohon palem yang tegak disana. Bedanya sekarang pohon itu sudah mencapai tingginya lantai 2 masjid. Masih ada santri yang rajin menyusun sandal jamaah dengan rapi, Masih ada para masyarakat berwajah teduh memenuhi lokasi masjid yang berada dalam satu kawasan tanah wakaf mesjid. Nayla menuju pintu  masuk akhwat dan berbelok ketempat wudhu. Lantai masjid terasa begitu sangat dingin, sedingin air yang menyentuh kulitnya.  Sejenak kesegaran menjalar keseluruh syaraf yang letih dalam perjalanan 4 jam yang telah ditempuh. Nayla segera naik kelantai 2 melaksanakan shalat tahiyatul masjid dan shalat ashar. Masjid yang tidak begitu besar tetapi menghadirkan sensasi nyaman yang beda dengan masjid-mesjid lain yang pernah ia kunjungi. Mesjid itu berkarpet merah cukup tebal dan lembut diinjak kaki.  Tak terasa air matanya menetes dalam muhasabah dosa masalalu.  Airmata menganak sungai tanpa bisa ia bendung. Disudut mihrah Nayla menangis terisak, baru berhenti setelah lelah dalam doa berlalu menyapa hati dan mata. Perlahan Nayla menarik nafas dan beristighfar.  Alquran usmani yang telah disiapkan disisi sujudnya diraih dan dibaca hingga magrib menjelang.
***
“ Nay kamu datangkan acara reunian kita tanggal 10 Desember nanti?” tanya suara sporan disebarang sana.
“emang siapa aja yang akan hadir neng?”tanya Nayla pada syafira sahabat karibnya yang senang ia sapa dengan sebutan neng walau Syafira bukanlah keturunan sunda.
“Banyak. Mb rika, mb meli, mas randi juga ikut kok” jelas pemilik nada ceria disana.
“Mas randi ikut ya?” ulang Nayla seketika cemas.
“kalau jadi ikut nanti aku kabari ya ra” telepon ditutup setelah syafira meminta konfirmasi kehadiran Nayla dalam 24 jam ini. Nayla galau.

***
Air mata gadis berparas minang itu masih saja mengalir dipenghujung sujud shalat magrib. Sekelebat rasa memenuhi rongga dada rasa takut dosa tak terampuni, rasa hina, rasa bodoh,rasa miskin papa, rasa lemah tak berdaya dihadapan sang Khalik yang Maha Sempurna dan Perkasa, memohon kekuatan hati menerima dengan ikhlas tentang takdir yang telah diputuskanNYA menjalani hidup bukan dengan orang yang diharapkan hati. Dialah randi. Pemuda yang berjanji menikahinya 2 tahun yang lalu. Nayla tidak mengerti mengapa randi tiba2 memutuskan menikah dengan perempuan lain setelah semua yang dia janjikan. Nayla terlanjur mempercayai kalau randi adalah pemuda yang baik dan takkan menyakitinya. Nayla yakin randi tak mungkin menyakitinya dalam kata yang selalu diucapkan randi, kata yang sebenarnya adalah bentuk penolakan halus tapi bagi perempuan selugu Nayla diinterpretasikan kata pengharapan “kalau kita jodoh pasti akan dipertemukan”. Kekuatan hati nayla bahwa dia punya Allah dan dia akan meminta kepada Allah melalui doa. Ya doa. Bukankah doa itu bisa merubah takdir. Bukankah Allah takkan pernah menolak doa2 hamba yang berdoa kepadaNYA?. Itu janji Allah. Nayla sangat yakin Allah tidak mungkin menolak permintaannya untuk bisa menakdirkan dia dan randi. Maka Nayla memperbaiki amalan2nya, memanfaatkan semua waktu2 mustajab dalam doa agar Allah mengabulkan apa yang dia inginkan yaitu hidup halal bersama randi. Toh itu bukan permintaan untuk bermaksiat. Dia meminta kebaikan. Itu yang ada dipikiran Nayla saat itu. Hati resah dan gelisah selama penantian. Tak jarang tangis menemani ujung sujud yang panjang. Dan disuatu ketika suatu hal yang merubah hidup dan keyakinan Nayla sementara.
Nayla dan randi terpisah samudra yang sangat jauh. Randi melanjutkan masternya keluar negeri. Dan beberawa waktu sebelum keberangkatan randi ke paris randi menelpon Nayla bahwa dia tidak bisa menikahnya.
“ Nay, mas minta maaf mas tidak bisa memenuhi harapan Nay untuk kita hidup dalam hubungan yang halal.” Terang randi pelan dan hati2 tapi terdengar seperti guntur menggelegar bagi Nayla.
“Mas randi kenapa? Baik2 ajakan? besok mau berangkatkan. Jangan mikir yang macam2 ya mas”. Nayla mencoba menenangkan diri dan menahan air mata yang hampir keluar.
“Nayla..!” panggil randi agak keras diseberang sana. “Mas tidak sedang bercanda. Semoga Nayla mendapatkan pengganti yang lebih baik dari mas. Maafkan mas” suara randi tertahan demi mendengar isak tangis diseberang sana.
“tapi kenapa mas? Apa salah saya? Apa salah yang telah saya lakukan sehingga mas randi memperlakukan saya tidak adil seperti ini?” sempurna isakan tangis Nayla. Diseberang sana hanya terdiam lama. “tolong jelaskan supaya saya bisa menerimanya” mohon Nayla.
“Nayla baik. Kita punya banyak kesamaan sifat. Mas egois, cuek, keras. Begitu juga yang mas rasakan ke Nayla. Mas sudah berusaha meminta petunjuk memantapkan hati untuk Nayla tetapi mas tidak mendapatkan jawaban itu. Mas tidak bisa memaksakan hati mas. Nayla maafkan mas. Semoga Nayla mendapat yang lebih baik lagi dari mas”..telpon di seberang sana mati tanpa permisi meninggalkan Nayla terpaku diam disudut ruang dengan gelas kaca bening yang jatuh kelantai marmar dan pecah berderai. Tuhan kenapa Kau perlakukan aku seperti ini. Bukan Kau berjanji akan mengabulkan segala doa hamba2 yang berdoa kepada Mu tapi mengapa seperti ini caranya.hati Nayla protes.
***
Tidak mudah memang menyatukan kembali pecahan kaca itu.  Pengkhianatan, begitu Nayla membahasakannya, orang yang telah lama bersemayam disalah satu ruang hati terlebih itu adalah pertama kalinya mencintai dan mengharapkan seseorang untuk menjadi suaminya. Tapi naila tidak punya pilihan. Yang ada adalah kata untuk bangkit dan tidak ingin terpuruk terus dalam kesedihan dan celaan takdir. Nayla memutuskan untuk meneruskan aktivitasnya sebagai jurnalis lepas yang pernah ia lakoni saat kuliah. Meliput berita yang penuh tantangan, meliput sudut2 keindahan alam untuk diterbitkan ke jurnal wisata dan untuk mendapatkan berita2 ini Nayla harus keliling indonesia, sebuah aktivitas yang dapat melupakan rasa sedihnya teradap randi. 
Perjalanan panjang yang menemukan banyak makna mentafakuri alam memupuk sedikit demi sedikit rasa syukur dihati terhadap Allah. Nayla telah mengobati lukanya. Lukanya sudah sembuh. Tapi sedikit menganga kembali waktu ia mendapat kabar kalau randi akan menikah. Bukan dari randi langsung Nayla mendapatkan kabar itu, tapi dari calon pengantin randi yang dia adalah sahabat karib Nayla dan seketika Nayla syok dan memohon ampun ke Tuhannya. Istighfar yang menguatkan langkahnya untuk mengucapkan selamat atas pertunangan randi. Randi menghadiri reunian karena dia ada diindonesia untuk melangsungkan pernikahannya.  setelah acara reunian mereka akan sepakat menghadiri pesta pernikahan randi seminggu berikutnya. Itu yang dikatakan syafira ke Nayla.  “Biarlah mungkin ini yang terbaik untuk ku untuk mas randi. Allah lebih tau. Aku pasrahkan segalanya” Nayla membatin sembari sekuat tenaga gemuruh didada untuk kesekian kalinya. Nayla yang sudah cukup menerima takdir tapi masih penasaran mengapa doa2 yang dia lantunkan tak diijabah dengan Allah. Padahal dia telah memenuhi syarat2 doa itu.
***
Avanza silver mengantarkan Nayla ke tempat acara reunian itu. Hatinya cemas. Bagaimana jika ia ketemu mas randi?. Apakah hatinya sudah benar2 kuat? Tak terasa air matanya menetes. “Rabb tolong aku. Jika takdir membawa aku bertemu dengannya tolong kuatkan aku. Aku dan mas randi sekarang teman. Aku tak pernah menanggap dia musuh atau orang jahat. ” Mp3 tausiyah yang dia beli di bazar mesjid baiturahman menjadi penenang jiwa Nayla sekaligus menjawab semua pertanyaannya selama ini.
“bukannya tujuan utama itu hanya sekedar minta ataupun berdoa, tetapi tujuan utama itu adalah jika engkau mengetahui tatakrama kepada Allah tuhan mu”
Nayla tersentak. Spontan ia mematikan sejenak mp3 itu dan mencoba merenungin kata bijak tadi “tatakrama kepada Allah?. Jadi selama ini apa aku tidak punya tatakrama saat berdoa meminta menghadapNYA sehingga dia tak mengabulkan permintaanku?.” Nayla tertegun belum bisa memahami. Tangannya kembali menekan tombol play di mp3nya.
Kita diperintahkan berdoa bukan karena Allah tidak tau keinginan dan kebutuhan kita. Semua yang kita inginkan Allah tau karena Allah lah yang menciptakan kita punya keinginan. Persoalan yang kita hadapi allah juga sudah tau karena persoalan itu dengan izin Allah menimpa kita. Kita disuruh berdoa itu bukan untuk memberitahu Allah. Selama ini kita jarang berdoa tapi dicukupi, selama ini kita diberi makan,pakaian dan hidup. Yang kita minta dengan yang tidak kita minta jauh lebih banyak yang datang tanpa di minta.kalau tidaj diminta saja udah datang apatah lagi yang diminta. Jadi apa inti dari doa? Inti dari doa itu benar2 menempatkan diri kita jadi hamba Allah sejati dan Allah tuhan kita. Doa itu ibadah. Ibadah yang membawa kita merasa hina, bodoh, lemah..Allah lah yang maha kuasa yang bisa mengabulkan doa. Berdoa itu bukan masalah keinginan kita tapi masalah bagaimana keiningan ini mengantarka kita makin tobat dengan Allah, mengantarkan kita jadi terpuruk dihadapan Allah, mengantarkan kiita makin malu..insyaallah itulah saat mustajab dalam doa. Supaya doa mustajab kecilkan dirimu sekecil2 kau mampu mengecilkan dirimu dan besarkan tuhan mu sebersar2 kau mampu membesarkanNYA. Kalau ada yang bertanya mengapa ya doa saya tidak dikabulkan? Mungkin karena sombong. Mulut berdoa tetapi hari merasa setara dengan Allah. Harusnya kita benar2 nyungsep kehadapan Allah. Menangis itu bukan ingin doanya dikabulkan tapi merasa kehinaan, kerendahan, kebodohan, itu yang bikin nangis.
Gelap malam mengalangi pandang mata yang melihat rembesan air mata di pipi Nayla. Tidak ada temannya yang tau hatinya dalam perjalanannya malam itu, sedang teman2 yang lain telah terlelap pulas. Nayla menyeka air mata seketika mersa diri begitu hina. dihadapan Allah yang maha suci.
“ya Rabb apa karena aku sombong? Apa karena hatiku kotor? Apa karena niat dan tujuanku tak murni hingga sebegitunya terjadi. Ya Rabb, apa Kau mengirimkan mas randi dalam hidupku hanya sebagai perantara aku kenal dengan Mu? Memang aku mulai menenukan jalan2 taaruf dengan Mu. Tapi aku takut ini semua lagi2 salah hanya sebagai teman pelarianku. Ya Rabb bimbing aku” Nayla mengiba, hatinya remuk redam.sekuat tenaga ia tutup mulutnya dengan telapak tangannya agar tak meledak dalam suara tangis keinsyafan.
Kalau doa telah membuat hati kita remuk dan yakin terhadap kemahabesaran Allah itu lebih hebat dari ijabah doa. Tenanglah masalah perkara doa Allah tak mungkin luput. Semuanya terdengar jelas dalam perhitungan Allah. Remukany hati, luluhnya hati ini sebenarnya inti dari doa, bukan hanya melepaskan kata2 dan Allah lebih tau. “dan kami mengetahui apa yang dibisikkan hatinya”
***
Sujud Subuh kali ini menjadi sujud yang sangat syahdu. Sujud yang lebih panjang lagi dari biasanya membawa ketenangan hingga relung yang paling dalam. Lantunan hafalan Arrohman terulang terus dari bibir Nayla. Air matanya terus mengalir saat mengulang ayat “ maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?” hati Nayla tertampar berjuta kali. Apa arti randi dengan segala nikmat yang Allah berikan kepadanya saat ini, nikmat bermakrifat kepadaNYA, nikmat iman, nikmat dekat dengan alquran, nikmat berkumpul dengan orang2 sholeh. Apa yang lebih penting dari semua itu. Nayla berazam untuk menjadi hamba yang penuh syukur dan surah azzariyat ayat 56 pun menjadi visi hidupnya. Pesan yang langsung disampaikan Allah untuk hamba yang beriman “Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku”
****


Sabtu, 18 Mei 2013

Selaksa asmara sang adam

Hati yang ada dibalik tubuh yang kekar itu gemetar. Seorang ‘makhluk halus telas merasukinya. Bayu benar2 resah. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Selama ini dia selalu membuat benteng pertahanan yang kokoh agar tidak bisa dilewati sang makhluk halus. Tapi kali ini berhasil..entah dimana salahnya. Dia selalu merasa salah tingkah ketika berada beberapa radius ratusan cm meter dari sang makhluk halus. Bayu, lelaki koleris dengan sifat keras dan cueknya tiba2 menjelma menjadi sosok lelembut melankolis dan sangat perhatian dengan makhluk itu. “itu bukan aku. Kenapa aku bisa selemah ini.?” Bisik hati bayu. Ya Rabb, kuatkan aku untuk mampu bertahan selama masa dengannya.
Nuansa instrumen kitaro terlantun dari Samsung minipad. Pesan masuk hari ini. Siapa ya? Jemari bayu cepat memainkan tombol hape membuat menu pesan. Vetri. Serrrr….”apa ini?kenapa darahku berdesir” sadar bayu.
“aslm mas bayu besok bisa ketemu di kantor? Ada yang mau saya tanyakan terkait agenda survei masyarakat untuk program pengabdian kita”
“ya insyallah.” Replay bayu. Sms kerja.biasa saja. Tapi kenapa selalu saja bayu merasa aneh. Sesuatu yang tak dipahami. Didalam hati ini. Apakah sebuah tarikan perasaan hati?.  Sejenak bayu mencoba menelusuri akar masalah dirinya. Ukuran bayu, Vetri seorang gadis yang biasa saja. Dari face vetri tidak cantik dan tidak juga terlalu jelek,tidak terlalu menonjol diantara yang lain, bukan tipikal seorang yang keibuan dan lembut seperti inginnya, malah mendekati tomboy dan terkadang jutek,apalagi dengannya, dia lupa kapan gadis itu pernah bersikap lembut dengannya. Gadis yang keras kepala dan sering ambisius, rapat2 organisasi selalu diakhiri dengan adu argumen yang alot, menyebalkan, sedikit kelebihan ve dibanding teman gadis yang lain adalah ve energik dan selalu semangat. Itu aja. Dan entah kenapa dari semua itu, bayu selalu merasa nyaman ketika bercerita, berdiskusi bertukar pikiran dengan vetri walau terkadang vetri sering kasar dan jutek bahkan pernah mogok ngomong dengannya beberapa hari karena satu hal kecil yang salah ia tanggapi. Itulah vetri. Ya Rabb resah hati ini…sungguh aku tidak mengetahui sesuatu apapun..bimbing aku ya Rabb..tunjuki lah aku sesuatu yang tidak aku ketahui....ya Rabb..
*****
Adalah engkau, dia yang ku rindu
Untuk menjadi bunga dihati ku
Menjadi peneduh kalbu diperjalananku…

Lantun nasyid seismic menemani bayu dalam sepi malam. Angin menyentuh kulit yang dibaluti kaos oblong putih. Jendela kamar sengaja belum ia tutup. Meja kayu coklat dan kursi yang tak kokoh lagi berderit saat bayu mencoba menutup jendela kamar. Gerakan slow kembali ke posisi semula. Sepasang mata hitam pekatnya memandang lurus ke layar laptop memandang rangkaian ratusan huruf . hanya matanya saja, sedang fikirnya telah jauh mengembara kedunia masa depan. Resah. Tangan bayu meraih handpone yang tergelak disampingnya. Ada sms yang mau diketiknya. Isi dari hatinya. Isi dari kepalanya.

“ve, mas boleh bertanya sesuatu? Bukan geer tapi hanya ingin bertanya, apakah ve punya harapan ke mas?,tidak ada maksud lain,silahkan ve tafsirkan sendiri” SEND. gemetar bayu setelah mengirim pesan itu. Apa yang membuatnya begitu berani?. Terbayang wajah sang gadis itu yang mungkin kan merah padam..Ya Rabb..ampuni aku. Sesal selalu dibalakang.
Tiit..tiit...
“maksud mas bayu apa? Harapan apa?”. Tanggapan yang sangat biasa. Semoga dia tidak marah dengan pertanyaan ku. Doa bayu.
“maaf, maksud mas harapan ve ke mas untuk menjadi teman sejati….”
Pesan itu tidak direplay. Marahkah dia?.

****
 Ruangan 10 x10 meter yang disekat menjadi beberpa ruang kecil itu lengang.  Ruang tamu masih berserakan dengan Koran yang dibaca dan belum sempat di rapikan. Jam baru menunjukkan pukul 07.00 pagi. Bayu masih kefikiran tentang sang gadis. Berkali2 ia beristighfar, dengan perasaan yang sangat bersalah. Hari ini waktu ketemu dengan vetri untuk memahas permasalahan yang dijanjikan kemaren. Menit berlalu, beberapa jam terlewatkan, vetri tidak muncul. Bahkan bukan hanya beberapa jam, tapi beberapa hari selanjutnya hingga hitungan minggu pun dia tidak lagi nongol dikantor. Padahal sebelumnnya dia adalah seorang yang aktif. Ini salahku sesal bayu. Tapi aku masih tidak bisa melupakan gadis yang sudah setahun ini dikenalnya. Apa yang harus ku lakukan ya Rabb.
“ hayooo kok ngelamun pak direktur?” sergah bagas buat bayu gelagapan.
“apaan sih akhi, antum buat ana kaget. Ada apa?”
“wah marah dia” goda bagas “ eh udah mau zuhur nih yuk kemesjid. Setelah itu kita langsung kerumah ustad”
“ngapain?” tanya bayu bengong
“hari ni kan agenda pekanan kita akh. Piye toh mas’ul iku?” logat jawa bagas, sang sekretaris muncul.
“ohya, ane hampir lupa”. Bayu benar2 lupa jika hri ini adalah jadwal ngaji mingguan. Ah barangkali ustadz bisa membantu menenangkan keresahan yang selama ini menghantui.batin bayu.

Ya Rabb sesungguhnya hanya Engkau yang maha tahu akan resah hati ku. Aku benar2 tidak kuat, maka kuatkan aku ya Rabb. Aku tahu aku salah dan aku ingin menebus kesalahan ku, jika dia yang terbaik untuk ku maka permudahkanlahnlangkah kaki ku untuk menjemputnya ya rabb. Hanya kepadaMU milik kekuasaan penuh yang menentukan.
***
“uztadz ana ingin menyempurnakan setengah die ana” ungkap sang murid.
“ hmmm,,,seperti apa istri yang kamu inginkan akhi?” tanya sang ustd bijak.
Seperti apa? Seperti dia. Tapi apakah ku harus mengatakan yang sejujurnya dengan usztad. Apa aku harus menyebutkan nama itu? Apa niat ku menikah? Karena gadis itukah atau karena memang tulus untuk beribadah menenangkan hati karena Allah? Lantas mengapa aku takut klu bukan dia? Tapi aku ingin dia..Ya Rabb..tolong aku...
“ ana tsiqoh dengan akhwat yang uztadz pilihkan untuk ana” sejenak kening bayu berkerut  mendengar pernyataannya sendiri. harusnya dia menyebutkan nama itu, ustadz pasti akan mengerti. Tapi lidahnya kelu dan sangat khawatir ustadnya tidak setuju dengan apa yang dia inginkan. Bayu beristighfar dalam hatinya yang sedang menangis. Kuatkan aku. Ikhlaskan hati ku Rabb..siapapun dia. Bayu hanya tertunduk dalam.
Sang guru diam sejenak. Kemudian beliau beranjak kekamar. Tak lama kemudian beliau membawa satu map biru muda dan menyerahkan kepada bayu.
“apa ini ustad?”tanya bayu penasaran.
“ biodata seorang akhwat. Pelajarilah dan istikharahlah untuk membuat pilihan. Jika sudah mantab dengan pilihan segera tentukan langkah selanjutnya. Bayu benar2 kaget. Secepat ini? Padahal dia baru saja mengatakan kepada ustadnya. Bayu galau. Sebenarnya bayu butuh waktu untuk menetralisir hatinya dari bayang sang gadis yang diharapkannya. Tiga hari kedepan biodata itu belum juga dibacanya. Bayu sibuk mengadu kepada Rabbnya agar dapat kekuatan untuk melangkah, memperbaiki dan menjaga niat hati karena ketika niat lurus dan hati mantap siapapun nama yang ada di map biru itu tentu akan ringan hati menerima. Ketika dirasa diri sudah benar2 mantap, Bayu membuka map biru itu dan membacanya dengan seksama. Dan dia sangat terkejut luar biasa. Biodata ditangannya adalah biodata seorang gadis yang menghilangkan diri dari nya sejak beberapa minggu yang lalu setelah ungkapan pernyataannya. Ya Rabb,,,mungkinkah dia?? Ingin rasanya bayu sujud syukur saat itu juga…
***