Rabu, 10 September 2014

Dosen ku, idola ku



Hubungan “tegang” antara mahasiswa dan dosen pembimbing adalah permasalah klasik mahasiswa di segala strata.  Dosen pembimbing menjadi wasilah lancar atau tidaknya akhir studi seorang mahasiswa.  So salah satu strategi dalam kelancaran studi adalah mendapatkan dosen pembimbing dengan cocok dengan kita baik dalam hal keilmuan dan yang terpenting adalah dalam hal komunikasi.  Nah yang paling tau siapa dosen paling cocok buat kita jika menginginkan kelancaran dalam kuliah ya Allah yang Maha Tahu. So sebelum memulai kuliah rencanakan dengan matang target2 perkuliahan termasuk siapa dosen yang akan menjadi pembimbing kita.  0,000∞1% adalah rencana kita selebihnya Allah yang ngatur.  Seperti pertemuan ku dengan kedua pembimbing ku ini yang setelah hamper dua tahun dibawah bimbingan keduanya aku ingin mengungkapan rasa syukur tak terhingga lewat cerita ku. 
***Back to The Past 2012
Aku memutuskan langsung lanjut S2 setelah selesai sidang S1.  Ternyata S2 adalah keputusan terbaik yang Allah restui karena aku merasakan banyak kemudahan dan keberkahan ilmu.  Aku telah memilih konsentrasi bidang ilmu di kuliah master ketika teman seangkatan sebagian besar masih galau.  Allah yang menunjukkan aku dalam proses mencari pembimbing melalui informasi senior ku.  Dengan bismillah, di temani seorang kawan yang akhirnya menjadi rekan akrab di tim penelitian aku menemui sang yang bergelar professor itu dengan perasaan segan, takut, khawatir tapi pede, hehe. Topik penelitian yang kuambil adalah bahasan modern bidang ilmu biologi yang berkembang pesat sedang saat itu aku tidak memiliki basic yang cukup dikampus S1 dulu terbukti saat sang dosen memancing dengan diskusi kami lebih banyak roamingnya dari pada nyambungnya.  tapi Entah apa yang membuat professor itu menerima kami sebagai bimbinganya sedang saat itu banyak mahasiswa ngantri.  Diperjalanan ternyata pembimbing kedua ku adalah istri beliau.  Keduanya kolaborasi yang keren dan luar biasa.  support yang diberikan tak hanya ilmu tapi juga dukungan moral yang sebenarnya itulah yang dibutuhkan mahasiswa.  Ketika hati dan fikiran tidak tertekan maka yang dijalankan akan jernih dan ringan. 
Saat memulai penelitian diawal waktu dulu, apa yang aku kerjakan sangatlah awal awam bagiku. Ketika aku melaporkan ke pembimbing keduanya berkata “ namanya juga berproses, nanti akan biasa. seperti memasak, awalnya kita melihat contekan buku resep, tapi ketika sudah sering dilakukan kita tidak lagi membutuhkan buku resep itu saat bekerja”. Finally kami pun semangat.  Keduanya selalu berusaha mengupgread softskill akademik mahasiswanya, menganggap bimbingannya dari segala strata adalah parthner, ini memotivasi kami dengan mendorong untuk aktif terlibat dalam agenda2 akademik seperti info2 beassiwa, seminar nasional dan internasional, tidak terlalu saklek dalam berurusan dan membuat janji diskusi yang harus kami menunggu berjam2 seperti kebanyakan dosen, dan keduanya selalu mengkonfirmasi kalau telat dari janji yang sudah disepakati sambil meminta maaf, selalu memulai menyapa mahasswa dibahasa smsnya dengan kata maaf dan terimakasih. Ini yang membuat aku sangat terkesan keduanya. Itu dosen pembimbing bro bertitel doctor dan professor. Waktu keduanya sangat fleksibel untuk berkonsultasi. Tak ada aturan yang terlalu saklek.  Jika beliau senggang, saat kita datang pastinya akan selalu diterima untuk konsultasi, jika beliau tidak bisa beliau akan mencari solusi kapan ada waktunya.  
***International Seminar
Disuatu moment seminar internasional yang dilaksanakan di Palembang, sept 2014 proffesor ku dan istrinya begitu bersemangat mensupport kami untuk join oral presentasi di agenda tersebut. Nyali menjadi ciut mendengar seminar international karena bahasa inggrisku masih belepotan.  Berbekal semangat ‘nekat’ mencoba akhirnya aku dan teman2 memutuskan untuk ikut.  Speak English menjadi solusi kami menghadapi seminar yang berkomunikasi full English selama pelaksanaan acara.  Aku adalah salah satu yang maksimal dalam praktek menurut ku.  Dalam fikiran aku mensugesti diri ini hanya oral presentasi parallel biasa dengan moderator dan peserta dari orang local yang bahasa inggrisnya lebih kurang aku lah.  aku mempersiapkan mental untuk kondisi.  Dan  ternyata di saat presentasi konsep berbeda dari yang aku bayangkan.  Aku di jadwalkan presentasi di akhir  sesi sesaat sebelum penutupan acara dan tidak ada parallel pula dengan oral presentasi lainnya.  Walhasil aku benar2 berada di kondisi yang tak terduga, presentasi di ballroom utama, moderator native speaker dengan system diskusi face to face termasuk sang moderator yang bertanya. I’m roaming, krik krik..sangat gugup dan bahasa inggris ku kacau balau, tambah panic saat aku mencoba menjawab terlihat raut kecewa dari penanya termasuk native speaker yang mungkin jawaban ku tidak nyambung dengan yang ditanyakan.  Tak kalah penting ku lihat dari seberang wajah kecewa professor ku juga melihat performance ku.  Aku merasa sangat bersalah.  Sesaat setelah persentasi aku datangi proffesorku sambil minta maaf, ku pikir beliau akan mengutarakan nada tidak puas tapi justru yang dikomentari konten tulisanku yang salah , Ya Salaam.  Tak sedikitpun beliau menyinggung performance ku. Syukur ya Rabb.  Ini semangat yang membuatku bangkit, dan kelak jika aku jadi pengajar di Universitas aku ingin sekali seperti beliau.  Bismillah