Jumat, 19 April 2013

BERCERMIN DIRI

Sahabatku,

Dalam keseharian kehidupan ini, kita seringkali melakukan aktivitas bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap, itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan, kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya, kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.

Hanya saja, jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya topeng yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isi dari topeng yang kita pakai ini. Yaitu diri kita sendiri.

Sahabatku,

Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"

Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini  yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah yang Mahaagung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"

Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thayibah, 'laaillaahaillallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakum yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"

"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Betapa banyak kata-kata yang manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampunimu?"

Sahabatku,

Tataplah diri kita dan tanyalah, "Hai kamu ini anak shaleh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini? Dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya?! Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!"

"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga sana? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam tanpa ampun dengan derita tiada akhir?"

"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau zhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?"

"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"

Sahabatku,

Ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau si pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu"

"Apakah engkau ini shaleh atau shalehah seperti yang engkau tampakkan? Khusyu-kah shalatmu, zikirmu, do’amu, ...ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"

Sungguh  betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi. Betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi!

Sahabat-sahabat sekalian,
Sesunguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.***
(Sumber : Jurnal MQ Vol.1/No.1/Mei 2001)

Mengenal Ikhwah Du’at dengan Ma’rifah yang Sempurna dan Sebaliknya



Mengenal Ikhwah Du’at dengan Ma’rifah yang Sempurna dan Sebaliknya.
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (Al Hujurat:10).

Ukhuwwah, setelah generasi pertama ummat Islam berlalu, telah hanya menjadi kata-kata penghias bibir kaum muslimin dan khayalan belaka di benak mereka, sampai kita datang dengan ukhuwah islamiyahnya. Kita telah berusaha menerapkannya di kalangan kita dan menginginkan kembalinya ikatan ummat yang saling bersaudara dengan jiwa ukhuwah islamiyah. Memang untuk meng- ukhuwah islamiyah-kan masyarakat, kita harus mewujudkan dahulu dalam kalangan kita sendiri.
  
Ikhwah berarti saudara sedarah, sekandung. Setiap mu’min kita jadikan sebagai saudara sekandung, lebih dari sekedar teman kerabat. Rukun ukhuwah adalah ta’aruf, tafahum dan takaful. Ta’aruf yang sempurna adalah dengan mengenali seluruh jati dirinya; fisik, pola berpikir (baca: fikroh), dan jiwanya. hendaknya kita tidak lalai dalam hal ini, sebab akan dapat membawa resiko. Pernah dalam suatu acara mukhoyyam ikhwah, ketika sedang mengadakan perjalanan yang panjang di malam hari melewati bukit-bukit berbatu, jurang yang dalam, menyeberangi sungai nan deras, seorang ikhwah “hilang” dari barisan Setelah cukup lama, peserta baru sadar ada satu anggota yang “hilang”. Pemandu segera menyusur balik dan akhirnya ditemukan. Usut punya usut ternyata ikhwah yang tertinggal tersebut mempunyai penyakit rabun senja. Untunglah dengan izin Allah SWT al-akh tsb selamat, tak masuk jurang.

Demikianlah satu akibat jika kita tak pernah mengenali ikhwah kita sendiri (fisiknya). Dan mungkin al akh yang menderita sakit tersebut sebelumnya juga tak pernah mengenalkan dirinya kepada ikhwah lainnya. Untuk itu bersegeralah mengenali ikhwah sedini dan sesempurna mungkin, sebaliknya kita juga mengenalkan diri kita kepada ikhwah. Selanjutnya tafahum dan takaful akan terwujud serta membentuk bangunan yang kuat seiring dengan kadar soliditas ukhuwah kita.

Adabut Ta’amul Ma’al Mas’ul (Ketua/Pimpinan)
Dalam da’wah seorang pemimpin mempunyai hak orang tua dalam hubungan ikatan hati, dan ustadz dalam hubungan memberikan ilmu. - Seperti halnya seorang syaikh dalam hubungan tarbiyah ruhiyah. - Menjadi pemimpin dalam hubungan dengan kebijakan politik bagi da’wah secara umum dan da’wah kita menghimpun seluruh nilai-nilai ini.

1. Taat,
Yaitu melaksanakan perintah dan merealisasikannya dalam kondisi semangat atau malas dan dalam kondisi sulit ataupun mudah. “Wajib atas seorang muslim mendengar dan taat, dalam keadaan senang maupun benci, kecuali perintah untuk maksiat, karena tak ada ketaatan terhadap makhluq dalam bermaksiyat kepada Allah” (HR. Muslim).

Jama’ah, dalam merealisasikan tujuannya pastilah membutuhkan jundi yang taat dan memahami akan tuntutannya. Ingatlah juga syurut tajnid Asy Syahid Hasan Al Bana; faham, ikhlash, amal, jihad, pengorbanan, taat, tajarrud, tsabat, ukhuwwah, tsiqoh. Tuntutan demikan amatlah logis dan tidak mengada-ada. Organisasi jahat kaliber internasional pun menuntut hal yang identik demikian, bahkan kadang tidak logis. Para agen Mossad Yahudi bahkan tak segan-segan untuk membunuh anggotanya jika terbukti berkhianat.

Jama’ah da’wah tidaklah demikian, orang boleh masuk dan tak akan menahan yang mau keluar darinya. Masing-masing akan memetik buahnya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Jama’ah kita mempunyai tujuan yang amat mulia, perjuangannya melibatkan antar generasi dalam rentang waktu yang tak terbatas, menegakkan kalimattullah hiyal ‘ulya sampai dunia ini musnah. Hanya tentara Allah SWT sajalah yang mampu menegakkannya, bukan orang yang leda-lede.

2. Tsiqoh,
Yakni tentramnya jiwa dengan seluruh yang keluar darinya. Ibarat seorang tentara yang merasa puas dengan komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan yang mendalam yang menghasilkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan serta ketaatan. “Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka esuatu keberatan terhadap sesuatu keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An Nisa’ (4):65).

Pemimpin adalah unsur penting dalam dalam da’wah; tak ada da’wah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqoh yang timbal balik antara pemimpin dengan yang dipimpin menjadi neraca yang menentukan sejauhmana kekuatan sistem jama’ah, ketahanan khthithah-nya, keberhasilannya mewujudkan tujuan, dan ketegarannya menghadapi tantangan. Tsiqoh kepada pemimpin adalah segalanya dalam keberhasilan da’wah. Untuk mengetahui kadar ke-tsiqoh-an dirinya terhadap mas’ul-nya bertanyalah kepada diri sendiri dengan tulus mengenai beberapa hal sbb: - Sejauhmana mengenal mas’ul tentang riwayat hidupnya
- Kepercayaan terhadap kapasitas dan keikhlasannya.
- Kesiapan menerima perbedaan pendapat dengan mas’ul, dan mas’ul telah memberi perintah dan atau larangan yang berbeda dengan pendapat kita.
- Kesiapan meletakkan seluruh aktivitasnya dalam da’wah, dalam kendali mas’ul.

3. Minta izin,
Jama’ah mengetahui segala kondisimu dan selalu ada hubungan ruh dan aktivitas dengan jama’ah. Sebenarnya bergerak dalam suatu jama’ah adalah tugas, tanggung jawab, amanat yang harus dipikul oleh pemimpin beserta seluruh anggotanya. Kesemuanya harus terkoordinasi rapi ibarat sebuah bangunan yang kokoh bershaf-shaf. Tidak boleh saling menelantarkan, berperilaku bahaya dan saling membahayakan. Tidak menyempal dari jama’ah atau hilang dari “peredaran” jama’ah dalam kurun waktu tertentu. Harus ada jalinan komunikasi yang efektif serta terus menerus ber-musyarokah.

Asy Syaikh Musthafa Masyur pernah memberi taujihat yang luar biasa: “Mutu jama’ah tergantung dari mutu harokah (gerakan), mutu harokah tergantung dari mutu musyarokah (berserikat), mutu musyarokah tergantung dari mutu muhawaroh (komunikatif, saling keterbukaan), dan mutu muhawaroh tergantung dari bagaimana mutu ukhuwahnya”.

4. Memuliakan mas’ul.
Memuliakan, menghormati mas’ul tidak semata-mata didasarkan kepada diri mas’ul, tetapi karena dirinya dipandang sebagai lambang jama’ah yang mengibarkan bendera Islam untuk menyerukan hidayah ke ummat manusia. Setiap gerakan yang merugikan kedudukan pemimpin akan merusak citra dan keutuhan jama’ah.

5. Merahasiakan nasihat.
Di antara sifat mu’min adalah suka nasihat menasehati dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran. Ketinggian kedudukan mas’ul tidak boleh menjadi penghalang untuk itu, dalam rangka untuk memperbaiki amal dan menghindarkan hal-hal negatif. Tidak boleh merasa berat dalam memberi nasihat, begitu juga mas’ul harus lapang dada, dan bersyukur dalam menerimanya.
“Ad dien itu adalah nasihat. Kami bertanya, ‘untuk siapa?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Bagi Allah, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan orang orang awamnya” (HR. Muslim).
Adapun adab yang harus kita jaga dalam memberi nasihat kepada mas’ul adalah dengan memilih ketepatan suasana dan cara. Paling tidak ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, berilah nasihat dalam bentuk yang paling baik, dan nasihat tersebut hendaknya diterima menurut bentuknya. Kedua, dengan menasihatinya secara diam-diam berarti telah menghormati dan memperbaikinya. Sebab jika kita menasihatinya dengan cara terang-terangan di hadapan orang banyak, seolah kita telah mempermalukan dan merendahkannya. Ketiga, tatkala memberi nasihat maka hati/niat kita tidak boleh berubah walau sehelai rambut pun. Tidak merasa lebih mulia, tidak menggurui sehingga menjadikan obyek seolah-olah seorang pesakitan yang penuh dengan kekurangan. Rasa cinta dan hormat kepadanya tak bergeser sedikitpun

Adabut Ta’amul Ma’al Muayyid (Pendukung) / Junud (Prajurit)
1. Tawazun dalam menilai/memuji, mereka bukanlah segalanya sampai tak menghiraukan yang lain, dan tidak pula meremehkan mereka sehingga kita jadikan mereka sebagai kasta rendah tak bernilai.
2. Mendahulukan yang terpenting dari yang penting, dan permulaan yang terbaik adalah menempatkan aqidah dalam hati
3. Sedikit dalam nasihat.
4. Menghindari cara menggurui, meskipun dengan argumen yang jitu.
5. Hindari jawaban langsung atau kritik pedas
6. Hati-hati dari penyia-nyiaan potensi dengan penyembuhan/membuang urusan-urusan yang sepele atau debat yang tak bermanfaat.
7. Menganggap mereka (mad’u) cerdas dan berilmu, maka jangan terlalu memperpanjang dalam menjelaskan yang aksiomatik (badihiyat).
8. Setiap ucapan ada tempatnya, setiap tempat ada perkataannya, “khotibun naas ‘ala qodri ‘uqulihim “ (maka sampaikanlah pada manusia menurut kadar akalnya).
9. Mempelajari kondisinya dan mengetahui akan halnya: Jangan mencacinya apabila terlambat dari kegiatan Jangan memaksanya ke dalam pekerjaan tertentu Jangan membebani melebihi kemampuan
10. “Membina tidak cukup sehari semalam”.
11. Jadilah qudwah baginya dalam segala sesuatu (“amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” Ash Shoff: 3) 12. Terus menerus dalam menda’wahi sampai tampak hasilnya.  

Adabut Ta’amul Ma’al Ikhwah (Saudara-Saudara Seperjuangan)
1. Husnudzon dan memohonkan maaf pada mereka
2. Menampakkan cinta dan menahan marah serta dendam karena kelalaian mereka
“Janganlah kamu meremehkan perbuatan ma’ruf sedikitpun, walaupun sekedar menunjukkan wajah yang berseri ketika bertemu dengan saudaramu” (HR.Muslim)
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Ali Imron:134)

Manusia adalah tempatnya salah dan lalai. Baik diri kita maupun saudara kita tak luput dari sifat itu. Adalah tidak adil jika kita memarahi saudara, apalagi memutuskan hubungan dengannya ketika lalai. Justru yang paling baik adalah dengan menesihatinya. Setinggi-tinggi martabat pergaulan adalah dengan tetap menjalin kasih sayang baik ketika lalai maupun ingat. Seperti itulah salah satu ciri kehidupan masyarakat muslim.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Al Fath:29)

Bahkan kadang kala kecintaan itu kita ikrarkan. Abu Kuraimah bin Ma’diy Karib Ra berkata; Bersabda Rasulullah SAW: “Jika seorang mencintai saudaranya, maka beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya karena Allah” (Abu Dawud). Sedangkan anjuran untuk menahan marah cukuplah nasihat Rasulullah SAW ketika seseorang datang kepada beliau dan berkata: “Nasihatilah saya”, kemudian Nabi SAW bersabda: “Jangan marah”, kemudian orang itu meminta mengulangi nasihat lagi, jawab Nabi :“Jangan marah” (HR Bukhari). Marah itu menghimpun berbagai kejahatan dan setiap kejahatan membawa dosa, sedangkan menahannya adalah menangkal dosa yang berarti memetik pahala surga. Muadz bin Anas berkata: Bersabda Rasulullah SAW: ”Siapa yang menahan marah padahal ia mampu memuaskannya, maka kelak di hari qiyamat Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluq, kemudian disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi).

3. Mendo’akan mereka ketika ghaib.
“Mintalah ampun untuk dosamu sendiri dan untuk kaum muslimin lelaki dan perempuan” (Muhammad: 19)

Wujud ukhuwah Islamiyah yang telah dibina Rasulullah SAW ketika periode hijrah sangat nyata, bukan seruan bibir semata. Mereka saling mengutamakan kebutuhan saudaranya yang baru dibina itu Mereka saling memberikan harta bahkan jiwanya untuk sebuah persudaraan karena Allah SWT. Mereka juga memberikan do’anya.
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman” (Al Hasyr: 10)

Abu Darda’ RA berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Do’a seorang muslim untuk saudaranya di luar pengetahuan yang dido’akan itu do’a yang mustajab, di atas kepala orang yang berdo’a itu ada Malaikat yang ditugaskan supaya tiap ia berdo’a baik untuk saudaranya itu supaya disambut: amin wa laka bi mitslin (semoga diterima dan untukmu sendiri seperti itu)” (HR. Muslim).

4. Mengakui pertolongan mereka baik dalam senang atau duka sebagai ungkapan bahwa kekuatannya (baca:kita) tidak mungkin bergerak sendiri dalam kehidupan.

5. Tidak suka mencelakakan mereka dan bersegera untuk menghilangkannya/ menolak.

6. Saling menolong, “tolonglah saudaramu baik saat mendzolimi atau saat terdzolimi, yaitu dengan mencegahnya”.

7. Mempermudah urusan-urusan yang sulit.
Salah satu dari ciri seorang muslim adalah suka mempermudah segala urusan yang dialami saudaranya. “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan” (Al Baqarah:185) “Ajarilah olehmu dan mudahkanlah olehmu dan jangan kamu mempersulit, dan jika salah seorang di antara kamu ada yang marah, maka hendaklah kamu diam” (HR. (Bukhari). Dari Ummul Mu’minin RA: “Jika menghadapi dua perkara, Rasulullah akan memilih yang termudah, jika kiranya tidak mengandung dosa. Maka jika urusan itu mengandung dosa, seluruh manusia harus menjauhinya. Dan apa yang menjadi pendirian Rasulullah SAW dalam menghadapi sesuatu, ialah tidak membalas dendam kepada siapapun jika yang disakiti itu hanya dirinya sendiri, kecuali jika larangan Allah telah dilanggar, maka beliau akan marah, dan membalasnya semata-mata hanya karena Allah” (HR. Muttafaq ‘alaih). Abu Qatadah RA berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata, ”Barangsiapa yang memudahkan kesulitan muslim lainnya, untuk mendapatkan keselamatan dari Allah dari kesulitan-kesulitan hari kiamat, maka mudahkanlah kesulitan (orang lain) atau melepaskan bebannya” (HR. Muslim).

8. Memberikan nasihat. Tak tersisa dalam hidup ini kecuali tiga kelompok: Seorang dimana kamu mendapatkan bergaul/ma’asyaroh dengannya, kalau kamu menyimpang dari jalur dia meluruskanmu, dan dia memberikan cukup kehidupanmu, tidak ada seorang yang bisa membebanimu, dan sholat di masjid jami’ kamu terhindar dari lupa padanya dan mendapatkan penghalang. (Perkataan Hasan Al Bashri). Dan berkata Al Muhasibiy, “Ketahuilah orang yang menasihatimu sungguh dia mencintaimu, dan barangsiapa yang menjilat kamu maka dia menipumu/mengujimu, dan siapa yang tak menerima nasihatmu bukanlah saudaramu”. [ ]

sumber: http://shirotsuya.multiply.com/journal/item/51

Sabtu, 06 April 2013

Wanita S1, S2, S3



Wanita S1, S2, S3
*opini satu sisi
Kata Rasulullah wanita itu tiang agama.  Dari wanitalah akan lahir generasi penerus.  Penerus tentang segala kebaikan atau penerus segala keburukan. Kedua pilihan ini tergantung wanita itu sendiri mau memilih yang mana untuk diajarkan kepada sang generasi penerus.  Untuk bisa memilih dan menjalani tentang segala kebaikan, itu perlu pengetahuan, untuk mendapatkan pengetahuan itu perlu pembelajaran, pembelajaran yang kompleks ditemukan dalam universitas kehidupan dan untuk bisa menghadapi realita di universitas kehidupan dengan bijak, masuk di miniatur univeritas kehidupan yaitu universitas2 formal dirasa wajar saja.  Keberadaan wanita menjalani peran sebagai mahasiswi diuniversitas2 formal jenjang S1, S2 bahkan S3 sekalipun tak lain hanyalah untuk memperoleh pelajaran lebih untuk menghadapi kompleksitas soal soal ujian di universitas kehidupan yang akan dia temui nanti setelah menyandang gelar sarjana, magister atau doktor.  Gelar2 akademik dari universitas formal itu hanya sebagai hasil short course untuk menjalani peran dengan gelar yang diberikan oleh universitas kehidupan yaitu gelar sebagai seorang istri dan ibu.  
Wanita yang telah menempuh short course di Universitas2 formal ini biasanya akan memiliki pemikiran yang lebih bijak dan visioner untuk membuat program2 pengembangan diri bagi keluarganya terlebih suami dan anak2nya. Beberapa permasalahan klasik yang ditemui di universitas kehidupan tentang kekhawatiran lelaki terhadap wanita yang memiliki pendidikan akademis lebih tinggi darinya berfikir sang wanita yang jika dia peristri nantinya akan susah diatur, akan susah taat dengan suami, akan merasa lebih tinggi dari suaminya, meremehkan suaminya.  Satu catatan untuk kekahwatiran ini, jika dia itu seorang wanita sholeha, bagus pemahaman agama, yang sangat bermakrifah dan sangat mencintai Tuhannya Allah maka setinggi apapun gelar akademiknya dibandingkan suaminya dia akan tetap berakhlak mulai terhadap suaminya, karena dia tahu dan akan selalu mencari tau apa2 saja hal2 yang pantas dilakukannya agar Allah ridho melalui ridho suaminya.
Gelar akademik bagi wanita seperti itu hanya sebagai wasilah untuk dia lebih mengenal tuhannya dalam proses pembelajaran di Univeritas2 kehidupan, belajar merancang rencana2 kehidupan yang  disukai Tuhannya, maka dia akan mengatakan seperti ini “ jika nanti aku sudah menikah, dan suami ku meminta meninggalkan karierku agar sepenuhnya fokus di gelar sebagai istri dan ibu maka dengan senang hati aku akan melakukannya, jika nanti Allah menitipkan rezeki seorang anak kepada kami maka sejak dari alam rahim aku akan mengenalkan anakku denganNYA, akan ku recoki fikiran anakku dengan segala ma’firah tentangNYA, kan ku cerita teladan sempurna Rasullullah, cerita heroik para sahabat/sahabiyah yang membela islam dan iman, buah hatiku yang sangat mencintai ilmu, mencintai Alquran, dan semua karena Allah”. 
Sekali lagi catatan yang ingin ditekankan disini adalah seorang wanita sholehah. Maka bukanlah sebuah kesalahan (jika memang ada jalannya)  ketika wanita menuntut ilmu2 formal setinggi2nya,  jika itu yang membuat dia akan menjadi lebih siap guna untuk menjadi ustadzah di madrasah peradaban yang akan menghasilkan didikan generasi Rabbani dan karena semangatnya menuntut ilmu itu Allah meninggikan derajatnya “....Allah mengangkat derajat orang2 yang beriman dan orang2 yang berilmu beberapa derajat” (Almuhadillah:11). Untuk lelaki, Maka jangan pandang gelarnya hingga hati menjadi ciut, karena itu hanya mengintrepretasikan sebuah pemikiran sang penilai yang sangat sempit, tapi lihatlah agamanya seperti pesan yang telah disampaikan Rasullullah. Untuk wanita, jadikanlah sarana2 di Universtas formal itu sebagai wasilah untuk lebih membuatmu mengenal Allah dan mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk melejitkan karier, meninggikan kedudukan, bukan untuk dipandang kagum dimata makhluk, bukan untuk diakui eksistensinya, bukan untuk populer. Itu tidak penting. Karier, Kedudukan yang tinggi, kekaguman orang, eksistensi, populer itu akan diperoleh tanpa diniatkan. Karena hukum alamnya seperti itu, hukum sebab akibat yang pasti akan berlaku. Tapi yang menjadi niat dan tujuan dari dalam hati. Maka kenapa tidak kita niatkan ke yang paling sempurna “bahwa kau melakukan semuanya karena Allah suka”. Bukankah ketika mencari akhirat maka dunia kan mengikuti?. Wallauhualam.

Selasa, 02 April 2013

Tentang sahabat


Tentang sahabat
Pertengkaran kecil
“saat ku minta kepada Allah untuk bisa memiliki hubungan yang baik dengan sahabat, Allah mengujiku dengan menyibakkan segala ketidaksukaannya kepada ku”
Kedekatan dalam persahabatan itu tak diukur waktu. Kamu bisa sangat dekat dalam wktu yang sebentar bahkan kamu tidak bisa dekat walau sudah menghabiskan puluhan dan ratusan hari, dlan satuan bulan dan mungkin kurun tahun dalam persahabatan itu. Terkadang kamu merasa dekat sebagai sahabatnya, tetapi dia tak punya perasaan yang sama. Bahkan terkadang sebelum kamu sempat dekat, malah papan persabahatan mu telah tertancap2 dengan paku atas kesalahanmu atau kesalahannya. Dalam kesakitan kamu berusaha untuk melepaskannya. Pedih. Air mata ingin keluar membasuh lukanya dan akhirnya terlepaskan juga oleh palu bermerek tabayun. Tapi ternyata bekas tancapannya masih sangat dalam..dalam perjalanan waktu untuk kembali merajut menjadi bilahan yang utuh. Apakah bisa rasa seperti sedia kala? Kenapa kamu mengatakan tidak bisa? Itu tergantung persepsi mu.  Aku ingin sedikit berbagi persepsiku tentang sahabat dan yang perlu dimiliki setiap sahabat.
Sejak kamu memutuskan untuk memasukkan namanya disatu ruang hati mu sebagai sahabat, maka disaat yang sama kamu harus menyediakan ruang lain yang sangat luas untuk sebuah sikap pengertian, pemahaman dan cinta.  Mengerti bahwa dia sama seperti kamu yang juga ingin dimengerti, diperhatikan, dimanja dan dibutuhkan, diposisi ini kamu menempatkan diri sebagai yang mengerti sahabat mu (hanya ingin mengerti).  Memahami bahwa dia kemungkinan memiliki karekater yang bertolak belakang dengan kepribadianmu, diposisi ini menempatkan diri sebagai yang memahami dia sepenuhnya (hanya ingin memahami).  Dan cinta.  Apakah kamu tahu arti cinta? Cinta adalah memberi. Memberi segala yang bisa membuat sahabatmu menjadi lebih baik. Maka ketika kamu telah memutuskan dia sebagai sahabat mu maka berilah pengertian, pemahaman dan cinta sepenuhnya kepada sang sabahat. Dia tak akan bisa memenuhi seperti yang kamu inginkan, dia tak sehebat yang kamu fikirkan, dia tak sempurna yng kamu bayangkan,bahkan terkadang dia sangat menyebalkan, merusak mood mu, menyusahkan kamu, menyita waktu mu..dan segalanya...tapi jika kamu merpersepsikan positif atas konsekuensi keputusan mu tadi maka sabahabatmu adalah guru kehidupan terbaik untukmu yang mengajarkan semua sikap terbaik tentang sabar, dewasa, legowo, memahami dan lainnya. Dan sahabatmu adalah ladang pahala bagi mu untuk kamu menanamkan benih2 kebaikan “Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s. Ali ‘Imran: 148). Kamu tidak akan pernah rugi, bahkan kamulah sebenarnya yang sangat. Bukan segala kebaikan yang dilakukan semata akan kembali kepada kita, semuanya “barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka itu untuk dirinya sendiri...”(al jasiyah: 15). karena pada saat itu sebenarnya kamu telah dipilih Allah sebagai sang perantara rahmat Allah yang sampai kepada sahabatmu. Semoga kita bisa melakoni segalanya karena Allah.
*maafkan aku jika tidak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu.